
Tranformasi Diri Seorang Gembala
Hari Biasa Pekan Paskah VII
Yohanes 21:15-19
Di tengah malam yang dingin sepasang remaja duduk di bangku taman saling bercerita. Kemudian gadis bertanya kepada pasangannya, ”Apakah engkau sayang sama aku?”, ”Tentu saja” jawab pria dengan lantang. ”Apakah engkau saat ini sayang sama aku?” ”Tentu saja, sayang” jawab pria dengan romantis. Kemudian Si Perempuan bertanya lagi sembari kedinginan, ”Apakah Engkau betul-betul sayang sama aku?” ”Apa kurangnya diriku kepadamu, semua telah kuberikan” Jawab Si Pria dengan penuh gombalan. Setelah mendengarkan jawaban pasangannya, Si Perempuan pergi meninggalkan Si Pria, karena wanita kedinginan dan Si Pria tidak melakukan apa-apa.
Dalam bacaan hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus sampai tiga kali, ”Apakah Engkau mengasihi Aku”. Dari pertanyaan Yesus kepada Petrus bisa kita ambil pesan bahwa mengasihi itu penting. Kasih itu tidak hanya sebuah ungkapan yang keluar dari mulut saja. Kisah ini juga mengingatkan kita akan peristiwa penyangkalan tiga kali oleh Petrus akan Yesus Kristus. Padahal malam sebelum penangkapan Petrus mengungkapan bahwa imannya tidak akan terguncang. Yesus ingin memastikan jawaban Petrus agar tidak keluar dari mulut, tetapi juga dari hati. Menyadari bahwa Yesus bertanya sampai tiga kali, Petrus pun sungguh sedih. Petrus tersadar bahwa dia belum sungguh mencintai Yesus dari hatinya. Maka dia penuh dengan kerendahan, tidak ada ungkapan kesombongan, mengatakan bahwa dia sungguh mencintai Yesus.
Santo Vinsensius dalam hidupnya banyak teladan KASIH yang sudah diaplikasikannya. Itu adalah warisan yang dia pelajari dari Yesus Sang Kasih. Kita tau, Vinsensius tidak mudah melakukannya, semua dalam proses dan bahkan mengalami pergulatan hidup yang tak karu-karuhan, tetapi pertobatan menyelamatkannya sampai pada pernyataan KASIH Allah. Vinsensius sungguh sungguh menjawab bahwa dia sangat mengasihi Tuhan melalui kesetiaannya memperhatikan semua kaum marginal, miskin dan terlantar.
Saudara-saudari yang terkasih, sebagai bahan permenungan kita jika Yesus bertanya kepada kita, ”Apakah kamu mengasihi Aku?” apa jawaban kita. Apakah kita layak mengasihi Tuhan dengan segala perbuatan yang sudah melukai hati-Nya. Dari Petrus kita dapat belajar bahwa Tuhan Yesus selalu menerima perubahan diri.