
Percaya pada Janji Allah
Hari Biasa Khusus Adven
Lukas 1:5-25
Dalam Injil hari ini, kita mendengar kisah tentang Zakharia dan Elisabet, pasangan yang sudah lanjut usia dan belum memiliki anak. Suatu hari, saat Zakharia sedang bertugas sebagai imam di Bait Allah, malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dan mengabarkan bahwa mereka akan memiliki seorang anak laki-laki, yang akan diberi nama Yohanes. Malaikat tersebut juga mengatakan bahwa anak ini akan membawa sukacita besar bagi banyak orang dan menjadi nabi yang akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Namun, Zakharia meragukan berita ini karena usia mereka yang sudah sangat tua. Sebagai akibatnya, Zakharia menjadi bisu hingga anak itu lahir. Meskipun awalnya ragu, Zakharia akhirnya percaya pada janji Allah, dan setelah Yohanes lahir, mulutnya terbuka kembali untuk memuji Tuhan.
Kisah keraguan Zakharia adalah hal yang sangat manusiawi, dan itu mengingatkan kita akan kecenderungan kita meragukan janji-janji Tuhan ketika kita dihadapkan pada situasi yang tampaknya tidak sulit. Namun, kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah setia dengan janji-Nya, meskipun kita kadang merasa ragu atau tidak layak untuk menerima berkat-Nya. St. Vinsensius de Paul mengajarkan kita untuk memiliki iman yang penuh meskipun dalam kesulitan, dengan mengatakan, “Kepercayaan yang tidak goyah pada kasih Allah harus menuntun kita untuk melayani sesama dengan sepenuh hati, karena pelayanan kita adalah wujud nyata dari iman kita kepada Tuhan” (DBSV V, 104). Ketika kita merasa ragu atau tidak mampu, kita harus ingat bahwa Allah bekerja dalam kelemahan kita dan memberi kita kekuatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan kehendak-Nya, seperti yang dilakukan oleh Zakharia setelah ia akhirnya percaya.
Karena itu, untuk menghidupi pesan ini, kita diajak untuk belajar percaya pada Tuhan bahkan ketika kita tidak melihat ada jalan keluar atau solusi yang jelas. Seperti Zakharia, kita seringkali dihadapkan pada kenyataan yang membuat kita ragu akan janji-janji Tuhan. Namun, dengan mengandalkan iman, kita dapat belajar untuk menyerahkan kekhawatiran dan keraguan kita kepada Tuhan, percaya bahwa Dia akan memenuhi janji-Nya pada waktu yang tepat. St. Vinsensius mengajarkan kita untuk melayani dengan ketulusan hati, tanpa mengkhawatirkan hasil atau pengakuan dari dunia, karena setiap langkah pelayanan yang kita lakukan adalah bagian dari rencana Allah. Ketika kita membuka hati untuk percaya pada janji-janji Tuhan, kita akan melihat bagaimana Dia bekerja melalui kita, memberi kita kekuatan dan keberanian untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya.