
Belajar Melayani,
Bukan Mencari Tempat
Peringatan St. Kasimirus
Matius 20:17-28
Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus dengan jujur menubuatkan penderitaan-Nya: Ia akan diserahkan, dihina, disiksa, wafat, dan bangkit pada hari ketiga. Namun di tengah pewartaan yang begitu serius ini, para murid justru masih memikirkan posisi dan kehormatan. Ibu Yakobus dan Yohanes meminta agar anak-anaknya mendapat tempat terhormat di sisi Yesus. Peristiwa ini memperlihatkan jurang antara cara berpikir manusia dan cara berpikir Allah. Ketika Yesus berbicara tentang salib, para murid masih memimpikan kemuliaan. Ketika Yesus menyiapkan diri untuk memberi nyawa, para murid masih bertanya tentang siapa yang paling besar. Yesus tidak memarahi mereka, tetapi dengan sabar meluruskan pemahaman mereka. Ia berkata bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah bukan soal kuasa, melainkan soal pelayanan. Siapa yang ingin menjadi besar, hendaklah menjadi pelayan; siapa yang ingin menjadi terkemuka, hendaklah menjadi hamba.
Sabda ini sangat relevan dalam masa Prapaskah. Ia mengajak kita menata kembali motivasi terdalam dalam menjalani tugas, tanggung jawab, dan pelayanan. Apakah saya melayani demi cinta, atau demi pengakuan? Apakah saya siap tetap setia meski harus berkorban, tidak dipahami, bahkan terluka? Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi dengan hidup-Nya sendiri. Ia meminum piala penderitaan sampai tuntas. Ia menunjukkan bahwa kasih sejati selalu menuntut pengosongan diri. Salib bukan kegagalan, melainkan jalan menuju kehidupan. Dalam hidup komunitas dan pelayanan—terutama di tengah mereka yang lemah dan berkebutuhan khusus—kita dipanggil untuk terus belajar logika Kerajaan Allah ini. Melayani berarti rela mendahulukan orang lain, sabar menghadapi keterbatasan, dan setia hadir tanpa syarat. Di sanalah kasih Kristus menjadi nyata.
Prapaskah mengundang kita untuk bertanya: piala apa yang hari ini Tuhan minta saya minum? Dan apakah saya bersedia meminumnya bersama Yesus, bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan iman dan kasih?
Pertanyaan Refleksi:
- Dalam pelayanan atau tugas saya, godaan apa yang paling sering muncul: mencari kenyamanan, pujian, atau kekuasaan?
- Bentuk “piala” apa yang sedang saya hadapi saat ini?
- Bagaimana saya dapat meneladan Yesus yang melayani dengan rendah hati dan total?