
Dipanggil dalam Air Mata
Hari Selasa dalam Oktaf Paskah
Yohanes 20:11-18
Maria Magdalena berdiri di luar makam sambil menangis, tidak memahami apa yang terjadi, tetapi tetap tinggal karena cintanya kepada Tuhan. Inilah cinta yang murni—cinta yang tidak bergantung pada pengertian, tetapi tetap setia di tengah kebingungan dan kegelapan. Kasih sejati kepada Kristus tidak selalu lahir dari kepastian, tetapi sering tumbuh dalam kesetiaan yang sederhana, bahkan ketika hati terasa berat. Seperti Maria, kita dipanggil untuk tetap tinggal dekat dengan Tuhan, setia dalam doa dan pelayanan, walaupun kita belum mengerti arah hidup kita sepenuhnya.
Ketika Yesus memanggil Maria dengan namanya, “Maria!”, hatinya terbuka dan ia mengenali Tuhan. Inilah buah dari cinta yang setia—perjumpaan yang mengubah hidup. Dalam semangat Vinsensian, perjumpaan dengan Kristus tidak berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi mendorong kita untuk melayani sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita. Ketika kita setia mengikuti dorongan kasih yang Tuhan tanamkan dalam hati kita, bahkan di tengah ketidakpastian, Tuhan akan menuntun kita dari kebingungan menuju kejelasan. Cinta yang setia itu akan memampukan kita melihat Kristus, bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam diri sesama yang kita layani dengan kerendahan hati dan kasih yang nyata.
Pada akhir renungan ini, ada kisah seorang ibu yang kehilangan anaknya karena sakit yang mendadak. Dalam kesedihan yang mendalam, ia tetap datang ke gereja setiap hari, duduk diam di bangku belakang, tanpa banyak kata. Banyak orang bertanya mengapa ia tetap datang, padahal hatinya sedang hancur. Ia hanya menjawab singkat, “Saya tidak mengerti rencana Tuhan… tapi saya tidak mau jauh dari-Nya.” Hari demi hari ia tetap hadir, tetap berdoa, meskipun air matanya belum berhenti. Suatu waktu, dalam doa yang sederhana, ia merasakan kedamaian yang perlahan memenuhi hatinya. Ia tidak mendapatkan semua jawaban, tetapi ia merasa Tuhan memanggilnya secara pribadi—menguatkan, memeluk, dan menuntunnya untuk melangkah kembali. Dalam kesetiaannya yang sederhana, ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengubah hidupnya.