
Cahaya Tuhan Di Balik Kegagalan
Hari Selasa Pekan Paskah II
Yohanes 3:7-15
Pernah merasa “salah kostum” saat berkenalan dengan takdir? Kita sering menganggap kegagalan di awal pertemuan entah itu salah ucap, salah paham, atau suasana canggung sebagai tanda “kiamat” kecil bagi kita. Santa Louisa de Marillac pun pernah merasakannya! Awal perjumpaannya dengan panggilannya bahkan dengan St. Vinsensius penuh kegalauan, kecemasan, dan rasa tidak layak. Dia merasa hidupnya “berantakan” sebelum akhirnya menemukan momen Lumière. Lucunya, Tuhan sering memakai momen tidak mengenakan kita untuk meruntuhkan gengsi. Belajar dari Santa Louisa bahwa menjadi suci tidak harus langsung tampil sempurna atau “keren”. Dalam salah satu tulisannya, ia berkata:
“Berjalanlah dengan kesederhanaan… janganlah terkejut karena kekurangan-kekuranganmu.”
Jadi, jika awal perjumpaan Kita dengan tugas baru atau orang baru terasa gagal dan kacau tidak perlu terlalu cemas. Mungkin Tuhan sedang tertawa kecil sambil menyiapkan kejutan besar. Kegagalan awal bukanlah penutup pintu, melainkan cara Tuhan mengetuk hati kita agar tidak terlalu serius memuja kehebatan diri sendiri, melainkan serius mengandalkan kasih-Nya. Kegagalan atau kecanggungan di awal sebuah perjumpaan baik dengan tugas baru, lingkungan baru, maupun orang baru bukanlah tanda bahwa kita tidak mampu. Justru, itu adalah cara Tuhan meruntuhkan tembok kesombongan kita sejak awal agar kita tidak mengandalkan kehebatan diri sendiri.
Belajar dari Santa Louisa, kesucian dan keberhasilan pelayanan tidak lahir dari awal yang “mulus,” melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan dalam kesederhanaan. Ketika kita berani menertawakan kekurangan diri dan tetap melangkah, di situlah kasih Tuhan bekerja paling kuat. Kegagalan awal adalah “pintu masuk” bagi rahmat Tuhan untuk menyempurnakan apa yang kurang dalam diri kita.