
Mencari Tuhan dengan
Hati yang Tulus
Hari Senin Pekan Paskah III
Yohanes 6:22-29
Orang banyak yang berada di seberang Danau Tiberias mencari Yesus, tetapi mereka hanya menemukan perahu yang dipakai oleh murid-murid Yesus. Mereka terus mencari Yesus dengan naik perahu menuju ke Kapernaum. Dan mereka pun menemukan Yesus di sana. Tetapi ketika menemukan Yesus, mereka malahan kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana Yesus bisa ada di sana, mereka penuh rasa penasaran. Yesus mengetahui bahwa orang-orang itu mencarinya hanya karena Ia telah mempergandakan roti dan mengenyangkan mereka. Rasa kenyang secara jasmani itulah yang membuat mereka mencari dan mengikuti Yesus.
Seperti halnya orang-orang di seberang Danau Tiberias, kita sebenarnya mencari Tuhan hanya untuk mencari kesenangan kita sendiri. Kita seringkali mengedepankan ego kita terlebih dahulu ketika kita mencari Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan hanya sebagai tempat meminta saja. Banyak sekali pengalaman hidup yang terjadi dalam diri kita dan banyak pula keinginan kita yang berharap dikabulkan oleh Tuhan. Tetapi, apakah kita pernah bertanya kepada diri kita sendiri tentang apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Seringkali kita khawatir tentang masa depan kita dan ragu bahwa Yesus ada di dalam diri kita, apalagi jika doa kita tak kunjung dikabulkan. Itulah yang membuat kita ragu dan kurang percaya pada-Nya. Padahal, Tuhan ingin kita bisa memahami kehendak-Nya, percaya pada-Nya dengan tulus hati dan tanpa pamrih.
Dalam mukjizat Yesus mempergandakan roti, kita dapat belajar bahwa Yesus mencintai semua orang tanpa terkecuali. Perjumpaan Yesus dan orang-orang Israel membawa kita akan iman untuk mengasihi sesama dalam cinta kasih. Santo Vinsensius dalam lima pilarnya juga menegaskan mengenai cinta kasih, yaitu cinta kasih kepada sesama terutama yang miskin dan menderita. Itulah mengapa Tuhan ingin kita menyadari kehendak-Nya dan percaya kepadanya, supaya kita mengamalkan cinta kasih yang telah disabdakan-Nya dan kita bisa selamat dalam kehidupan kekal kita di surga.