
Berani Berseru di Tengah Sunyi
Hari Kamis Pekan Biasa VIII
Markus 10:46-52
Bayangkan seseorang duduk di pinggir jalan. Ia tidak punya apa-apa, tidak dianggap, dan bahkan kehadirannya sering diabaikan. Orang-orang lalu lalang, sibuk dengan urusan masing-masing. Ia ingin berbicara, ingin didengar, tetapi setiap kali ia bersuara, orang-orang justru menyuruhnya diam. Namun hari itu berbeda. Ia mendengar bahwa Yesus Kristus sedang lewat. Ada harapan yang tiba-tiba menyala di dalam hatinya. Tanpa ragu, ia mulai berteriak: “Yesus, kasihanilah aku!” Orang-orang di sekitarnya menegur dia: “Diam!” Tetapi ia tidak berhenti. Ia justru berteriak semakin keras. Orang itu adalah Bartimeus.
Kisah ini sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita. Tampak kita sadari bahwa kita juga seperti Bartimeus berada di “pinggir jalan” kehidupan. Kita punya pergumulan, luka, atau kerinduan yang dalam, tetapi sering kali merasa tidak didengar bahkan kadang, suara dari luar atau dari dalam diri kita sendiri berkata: “Sudahlah, tidak perlu berharap.” Namun Bartimeus mengajarkan sesuatu yang penting yaitu iman tidak diam. Iman berani berseru, bahkan ketika dunia mencoba membungkam. Ketika Yesus Kristus berhenti dan memanggilnya, Bartimeus segera menanggalkan jubahnya dan melompat berdiri. Itu bukan tindakan biasa. Jubah adalah satu-satunya miliknya simbol rasa aman yang ia punya. Tetapi demi datang kepada Yesus, ia rela melepaskannya. Di sini kita diajak jujur pada diri sendiri. Apa jubah kita? Mungkin itu rasa takut, kebiasaan lama, luka batin, atau zona nyaman yang membuat kita tetap duduk di tempat. Yesus lalu bertanya; Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita hari ini. Bartimeus menjawab dengan jelas, Supaya aku dapat melihat dan seketika itu juga ia sembuh. Ia tidak lagi duduk di pinggir jalan, tetapi mengikuti Yesus. Inilah puncaknya iman sejati tidak hanya meminta, tetapi juga siap berjalan bersama Tuhan.
Hari ini, Tuhan juga lewat dalam hidup kita mungkin dalam peristiwa sederhana, dalam tugas harian, dalam orang yang kita jumpai, atau bahkan dalam pergumulan yang kita alami. Jangan biarkan suara iman kita dibungkam tetapi harus beranilah berseru dan beranilah untuk berharap dan ketika Tuhan memanggil, beranilah bangkit.