
Hidup yang Berbuah
Hari Jumat Pekan Biasa VIII
Peringatan St. Paulus VI, Paus
Markus 11:11-26
Sebuah pohon tampak indah dari kejauhan. Daunnya lebat, cabangnya rindang dan orang yang lewat mungkin akan mengira di sana ada buah yang bisa dinikmati. Tetapi ketika didekati, ternyata tidak ada apa-apa selain daun. Ia indah, tetapi kosong. Menarik, tetapi tidak memberi kehidupan. Dalam Injil hari ini, gambaran itu menjadi sangat nyata ketika Yesus melihat pohon ara yang penuh daun tetapi tidak berbuah. Di tengah perjalanan-Nya, Yesus mencari buah, tetapi tidak menemukannya. Lalu Ia berkata sesuatu yang keras: pohon itu menjadi kering sampai ke akar. Peristiwa ini tidak sekadar tentang pohon. Ini adalah cermin bagi kehidupan iman kita. Yesus tidak pernah tertarik pada hal yang hanya tampak luar, Ia selalu mencari buah. Dan buah itu adalah kehidupan yang nyata yaitu kasih yang sungguh, pertobatan yang jujur, iman yang bekerja dalam tindakan, bukan hanya kata-kata atau simbol.
Sering kali hidup kita juga seperti pohon ara itu, tampak hijau di luar kita rajin hadir di ibadah, kita bisa berbicara tentang Tuhan, kita tahu banyak doa. Tetapi ketika Tuhan datang mencari buah dalam bentuk tindakan nyata yaitu pengampunan, kejujuran, kepedulian, kerendahan hati tidak selalu Ia menemukannya. Lalu bagian Injil ini berlanjut dengan kisah Bait Allah yang dijadikan tempat jual beli. Yesus mengusir para pedagang dan berkata bahwa rumah doa telah dijadikan sarang penyamun. Di sini kita melihat hal yang sama sesuatu yang seharusnya kudus, berubah menjadi kosong secara rohani. Bait Allah yang megah, tetapi kehilangan roh doa. Yesus ingin memulihkan inti dari iman yaitu hubungan yang hidup dengan Allah. Doa bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan dan iman bukan sekadar tampilan, melainkan buah yang nyata dalam hidup. Dan kemudian Yesus berkata tentang iman yang dapat memindahkan gunung. Ini bukan tentang mukjizat spektakuler semata, tetapi tentang iman yang tidak setengah hati. Iman yang sungguh percaya, sehingga hidup berubah dari dalam. Namun Yesus menambahkan satu hal yang sangat konkret tentang mengampuni. “Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu.” Di sini kita diberi kunci yang sangat jelas. Iman yang berbuah selalu ditandai dengan hati yang tidak menyimpan dendam.
Maka Injil hari ini menuntun kita pada pertanyaan yang jujur, Apakah hidup kita hanya tampak beriman, atau sungguh berbuah? Apakah doa kita hanya kata-kata, atau benar-benar mengubah cara kita memperlakukan orang lain? Tuhan tidak mencari kesempurnaan tampilan. Ia mencari kejujuran hati yang mau berubah karena pada akhirnya, yang membuat hidup kita berarti bukan seberapa indah kita tampak dari luar, tetapi apakah ketika Tuhan datang mendekat, Ia menemukan buah-buah kasih, buah pengampunan, dan buah iman yang hidup.