Mempertanyakan Otoritas, Menutup Diri dari Kebenaran

pexels-lmotap-18695677

Mempertanyakan Otoritas,
Menutup Diri dari Kebenaran

Hari Sabtu Pekan Biasa VIII
Peringatan Bt. Marta Wiecka, D.C.
 Markus 11:27-33

Dalam hidup sehari-hari, kita sering menjumpai sikap di mana orang yang tidak mencari kebenaran, tetapi lebih sibuk mencari celah untuk menyerang. Tidak lagi mencari terang, melainkan mencari alasan untuk menolak. Bahkan tanpa sadar, kita pun bisa memiliki kesimpulan lebih dahulu, lalu bertanya hanya untuk menguatkan penolakan kita. Itulah suasana yang juga tampak dalam Injil hari ini. Para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua datang kepada Yesus. Mereka bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan semuanya ini? Dan siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Sekilas, pertanyaan ini terdengar wajar. Namun hati mereka tidak sedang terbuka untuk belajar, melainkan untuk menguji, bahkan menjebak. Mereka tidak sungguh ingin tahu, karena sebenarnya mereka sudah menolak siapa Yesus itu sejak awal.


Yesus Kristus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka. Ia justru mengajukan pertanyaan balik  tentang baptisan Yohanes, apakah itu dari surga atau dari manusia. Dan di situlah mereka terjebak dalam kebingungan mereka sendiri. Jika menjawab dari surga, mereka takut pada rakyat. Jika menjawab dari manusia, mereka takut pada rakyat juga dan akhirnya mereka memilih diam. Sikap diam itu bukan diam yang bijak, tetapi diam yang lahir dari ketakutan dan kepentingan. Mereka lebih takut kehilangan posisi daripada menemukan kebenaran. Di sini kita belajar sesuatu yang sangat dalam yaitu hati yang sudah tertutup tidak akan mampu mengenali kebenaran, sekalipun kebenaran itu berdiri di hadapan kita. Sering kali, kita pun bisa berada di posisi yang sama. Kita sudah punya gambaran tentang seseorang, tentang Gereja, tentang Tuhan, atau tentang ajaran tertentu. Lalu kita mendengar, tetapi sebenarnya tidak mendengarkan. Kita bertanya, tetapi sebenarnya tidak ingin berubah.


Injil hari ini mengajak kita untuk memurnikan kembali hati kita. Tuhan tidak selalu menjawab semua pertanyaan kita secara langsung. Kadang Ia mengajak kita untuk bertanya kembali kepada diri sendiri, Apakah aku sungguh mencari kebenaran, atau hanya mempertahankan diriku? Sebab iman bukan hanya soal mengetahui jawaban, tetapi keberanian untuk membuka diri kepada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu mengguncang kita. Ketika hati terbuka, bahkan pertanyaan Tuhan pun menjadi terang. Tetapi ketika hati tertutup, bahkan terang pun terasa mengganggu. Maka hari ini kita diajak untuk tidak hanya menjadi orang yang pandai bertanya, tetapi juga berani jujur terhadap jawaban di dalam hati kita sendiri. Karena di sanalah Tuhan berbicara paling dalam di hati yang sederhana, rendah, dan mau diajar.

Category: