Menempatkan Yesus di Puncak Prioritas

pexels-pixabay-358385

MENEMPATKAN YESUS
DI PUNCAK PRIORITAS

Hari Minggu Biasa XIII
Matius 10:37-42

Di zaman sekarang, di mana kita sering kali dituntut untuk mendengarkan ego sendiri, sapaan Yesus kali ini datang sebagai sebuah tantangan yang anti-arus. Kita yang hidup di zaman sekarang sangat akrab dengan istilah Main Character Energy (energi tokoh utama). Kita semua ingin menjadi tokoh utama dalam drama kehidupan kita sendiri, mengejar ambisi, memastikan kenyamanan pribadi, dan mempertahankan apa yang kita cintai. Bacaan hari ini, Yesus mengusik zona nyaman itu dengan sebuah pernyataan yang menantang. Yesus berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku…”

 

​Apakah Yesus melarang kita menyayangi orang tua, saudara-saudara atau sahabat kita? Tentu tidak. Yesus justru memerintahkan kita untuk menghormati orang tua. Yang Yesus maksud di sini adalah soal urutan kasih di dalam hati kita. Di dalam kehidupan ini terdapat banyak hal yang berebut posisi nomor satu di hati kita: penerimaan teman sebaya (peer pressure), hobi, ambisi karir, kedudukan, pacar, atau keluarga. Yesus menegaskan bahwa posisi nomor satu itu murni milik-Nya. Ketika kita berani menaruh Yesus sebagai yang utama, kita akan mendapati bahwa cara kita mengasihi orang tua, saudara-saudara dan sahabat justru menjadi lebih tulus dan sehat, karena kasih itu bersumber dari Tuhan.

 

Yesus melanjutkan lagi dengan hal yang lebih menantang, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Memikul salib bagi kita yang hidup di masa kini bukanlah hal yang keren di mata dunia. Memikul salib berarti berani mengambil risiko demi mempertahankan iman dan integritas pribadi sebagai pengikut Kristus. Saat orang-orang di sekeliling mengajak kita melakukan hal yang merusak, apakah kita berani memikul “salib” dicap sok suci, demi menjaga kekudusan hidup? Saat di tempat kerja, kampus atau sekolah semua orang menghalalkan segala cara untuk sukses, apakah kita berani memikul “salib” tetap jujur walau jalannya lebih lambat?

​

Mari kita jujur melihat ke dalam hati kita hari ini: Siapa yang sebenarnya duduk di takhta nomor satu hidup kita? Apakah ambisi, kedudukan, ketakutan akan masa depan, opini orang lain, atau Yesus? Menaruh Yesus di nomor satu memang butuh keberanian untuk memikul salib dan melepaskan kendali atas ego kita. Namun ingat, perahu hidup kita tidak akan pernah tenggelam jika kaptennya adalah Yesus sendiri. Naikkan Yesus ke tempat tertinggi, dan mulailah berdampak melalui hal-hal kecil di sekitar kita!

Category: