Saat Iman Tidak Butuh Bukti

pexels-tanish-mehta-286672532-15326066

SAAT IMAN TIDAK BUTUH BUKTI

Pesta St. Thomas, Rasul
Yohanes 20:24-29

Hari ini kita merayakan Pesta St. Thomas Rasul. Kisah Santo Thomas Rasul yang sering dijuluki “Thomas si Peragu” adalah kisah yang sangat dekat dengan realitas hidup kita jaman sekarang. Di era digital di mana informasi begitu melimpah, kita sering kali dituntut untuk bersikap skeptis dan kritis: “No picture/video berarti hoax”. Harus ada bukti nyata baru percaya. Mari kita renungkan bersama dalam Pesta Santo Thomas Rasul ini. 

 

Rasul Thomas orang yang realistis. Dia berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya… sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Ayat 25). Wajar bila Thomas ragu karena waktu penampakan Yesus, Thomas tidak hadir bersama rasul-rasul yang lain. 

 

Delapan hari kemudian (Ayat 26). Yesus datang kembali, dan kali ini khusus menemui Thomas. Yesus tidak memarahi, menghakimi, atau mencoret Thomas dari daftar murid-Nya karena dia sempat ragu. Yesus justru mendekat dan berkata, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku…” (Ayat 27). Begitu Thomas melihat Yesus, dia langsung percaya. Mengapa? Karena kehadiran dan kasih Yesus sudah meruntuhkan seluruh dinding keraguannya. Thomas langsung membuat salah satu pengakuan iman paling radikal dan terindah: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Ayat 28). 

 

Thomas berubah dari seorang yang paling skeptis menjadi rasul yang luar biasa. Tradisi Gereja mencatat bahwa Santo Thomas akhirnya pergi mewartakan Injil sangat jauh hingga ke India, dan mati sebagai martir di sana. Thomas membuktikan bahwa pengikut Yesus yang tadinya penuh tanda tanya, ketika sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, komitmennya akan menjadi total tanpa batas. 

 

Tuhan Yesus tidak baperan ketika kita punya pertanyaan atau keraguan tentang iman kita. Ketika kita mulai mempertanyakan, “Tuhan, Engkau beneran ada nggak sih di tengah masalahku?” atau “Kenapa doaku belum dijawab?”, Yesus tidak akan meninggalkan kita. Dia menghargai proses pencarian kita. Keraguan yang dibawa dalam doa justru bisa menjadi pintu gerbang menuju iman yang lebih dalam, bukan akhir dari segalanya. Mari belajar dari iman St. Thomas Rasul.

Category: