
Ketika “Pedang” Yesus Harus Memotong Kenyamanan Kita
Peringatan St. Henrikus
Matius 10:34-11:1
Halo Sahabat Vinsensian! Selamat hari Senin.
Kalau kita baca Injil hari ini ada satu kalimat Yesus yang bikin dahi mengerut: “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
Waduh, kok serem ya? Eits, jangan salah paham dulu. Yesus gak lagi ngajak kita tawuran kok. Biar gampang dipahami, coba bayangkan kisah analogi tentang seorang dokter bedah.
Ada seorang sahabat Vinsensian yang divonis memiliki tumor ganas di dalam tubuhnya. Dokter bedah yang menanganinya sangat menyayangi sahabat Vinsensian ini dan ingin dia sembuh total. Ketika di ruang operasi, apakah dokter itu akan bersikap “damai dan kompromi” dengan tumor tersebut? Tidak mungkin. Si dokter harus mengambil pisau bedah yang tajam, merobek daging, lalu memotong tumor itu sampai ke akar-akarnya.
Proses itu pasti memicu darah, melahirkan rasa sakit yang luar biasa pasca-operasi, dan butuh waktu untuk pulih. Tapi pertanyaannya: Apakah dokter itu jahat karena menggunakan pisau tajam? Tidak.
Justru karena dia sangat mencintai pasiennya, dia harus tega menggunakan “pedang” (pisau bedah) itu demi menyelamatkan hidup sahabat kita ini. Nah, “Pedang” yang dibawa Yesus itu fungsinya persis seperti pisau bedah tadi. Yesus membawa kebenaran yang tajam untuk memotong tumor-tumor dosa, ambisi egois, dan kepalsuan dalam hidup kita.
Kisah “pisau bedah” ini jujur mengingatkan kita pada St. Vinsensius a Paulo.
Tahukah kamu? Vinsensius di masa mudanya itu juga sempat terjebak dalam “tumor ambisi pribadi”. Dia mendaftar jadi romo demi mencari aman dan kenyamanan, pengen dapat posisi mapan, uang banyak, dan pensiun dini biar bisa hidup mewah. Dia terjebak dalam damai semu dan gengsi sosial zamannya.
Tapi, Tuhan tidak membiarkan Vinsensius hidup dalam kepalsuan. “Pedang” firman Tuhan memotong ego itu lewat perjumpaannya dengan orang miskin yang sakaratul maut di Folleville dan keluarga yang kelaparan di Chatillon. Lewat peristiwa itu, Vinsensius berani memotong tumor ambisi pribadinya. Dia tinggalkan lingkaran kaum bangsawan yang nyaman demi menembus pekatnya kemiskinan. Beliau memilih “tidak damai” dengan sistem sosial yang menindas sesama. Seringkali, kita pun terjebak dalam “damai yang semu”-alias cari aman.
* Demi menjaga hubungan baik (damai semu), kita ikut-ikutan ngegosip atau memaklumi kecurangan di tempat kerja.
* Demi gengsi di depan keluarga besar, kita memaksakan diri hidup konsumtif.
Di sinilah pedang Yesus bekerja. Mengikut Yesus itu butuh ketegasan sikap. Adakalanya kebenaran iman yang kita pegang akan membuat orang lain-bahkan orang terdekat kita-merasa risih, tidak nyaman, atau memusuhi kita. Itu adalah resiko dari sebuah prinsip.
Nabi Yesaya dalam Bacaan Pertama juga mendukung hal ini. Tuhan menyuruh bangsa Israel menghentikan ibadah yang penuh kepalsuan. Tuhan ingin “pedang” keadilan memotong kemunafikan mereka. Memang sakit ketika ego kita dipotong, memang berat ketika kita harus memilih berbeda demi kebenaran. Tapi itulah arti dari memikul salib yang dimaksud Yesus.
Sahabat Vinsensian, di awal pekan ini, yuk kita berani bercermin: Apakah ada ‘tumor’ kebiasaan buruk, gengsi, atau kompromi dosa dalam hidupku yang selama ini aku biarkan demi mencari aman? Beranikah aku membiarkan ‘pedang’ firman Tuhan memotongnya hari ini?
Yuk, jadi pribadi yang berprinsip dan berani karena benar. Selamat hari Senin, tetap semangat, dan Tuhan memberkati!