
“Klarifikasi” Perlukah?
Hari Sabtu Pekan Biasa XV
Matius 12:14-21
Halo Sahabat Vinsensian!
Bayangin kamu dituduh mencuri uang sama temen sekamar kamu. Padahal kamu gak ngelakuin itu, dan kamu tahu siapa pencuri aslinya. Kira-kira, apa reaksi pertama kamu? Pasti bawaannya pengen langsung ngamuk, bikin statement klarifikasi panjang lebar di medsos, atau langsung lapor polisi demi bersihin nama baik, kan?
Tapi, hal yang di luar nalar justru dilakukan sama bapak pendiri kita, St. Vinsensius a Paulo waktu muda.
Suatu hari, hakim daerah yang tinggal sekamar dengannya kehilangan uang banyak. Karena waktu itu Romo Vinsensius lagi sakit di kasur dan ada di rumah, dialah yang dituduh mencuri. Romo Vinsensius sebenarnya tahu kalau yang nyolong itu petugas apotek yang nganterin obat, tapi beliau milih buat DIAM. Beliau cuma bilang dengan tenang, “Tuan, Tuhan tahu yang sebenarnya.”
Selama bertahun-tahun setelahnya, si hakim menjelek-jelekkan nama Romo Vinsensius ke mana-mana sampai reputasinya hancur. Romo Vinsensius punya sejuta kesempatan buat bales dendam atau buka suara, tapi beliau milih jalan “senyap”. Beliau percaya, kebenaran gak perlu dibela dengan otot, biar Tuhan yang bertindak pada waktu-Nya.
Benar aja, bertahun-tahun kemudian, si pencuri asli tertangkap kasus lain dan mengaku. Si hakim langsung nangis, menyesal dan sujud minta maaf ke Romo Vinsensius.
Sikap “senyap” dan gak haus pembelaan diri ini tuh meniru persis gaya Yesus dalam Injil hari ini. Pas orang-orang Farisi mulai bersekongkol untuk menjatuhkan dan membunuh-Nya, Yesus gak balik menyerang pakai pasukan malaikat atau bikin huru-hara. Dia malah menyingkir secara senyap. Dia tetep sibuk berbuat baik menyembuhkan orang-orang sakit, tapi uniknya, Yesus melarang keras mereka untuk mempopulerkan nama-Nya ke publik.
Yesus gak butuh panggung, gak butuh viral, dan gak butuh validasi manusia. Tindakan-Nya ini menggenapi nubuat: “la tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suara-Nya tidak akan didengar di jalan-jalan.”
Gaya hidup Yesus dan St. Vinsensius ini kontras banget sama apa yang dikecam nabi Mikha di Bacaan I. Di sana diceritakan tentang orang-orang berkuasa yang egois, yang pakai pengaruhnya buat merampas ladang dan rumah orang miskin demi panggung duniawi.
Sahabat Vinsensian, di hari Sabtu ini, yuk kita ngaca sebentar:
- Di zaman digital yang apa-apa serba butuh pengakuan, panggung, dan ego yang tinggi ini, berani gak kita meniru gaya “senyap” Yesus dan St. Vinsensius?
- Kalau kita lagi disalahpahami atau difitnah, apakah kita masih bisa tenang dan menyerahkannya ke Tuhan, atau kita justru sibuk nyari pembelaan manusia sampai bikin keributan?
- Pas kita lagi berbuat baik atau terlibat pelayanan, apa sih yang kita cari? Ketulusan untuk menyembuhkan luka sesama, atau cuma pengen dibilang “paling suci” di lingkungan kita?
Yuk, belajar nurunin ego. Cinta dan pelayanan yang sejati itu gak butuh panggung yang riuh, dia cuma butuh hati yang tulus.
Selamat berakhir pekan, selamat mempersiapkan hari Minggu, tetap rendah hati, dan Tuhan memberkati!