Bahaya “Hati yang Tertutup”

ChatGPT Image Jul 31, 2026, 11_02_52 PM

Bahaya “Hati yang Tertutup”

Perayaan Wajib St. Alfonsus Maria de Liguori
Matius 14:1-12

Dalam Matius 13:1-12, Yesus mengajar orang banyak melalui perumpamaan tentang seorang penabur. Benih-benih yang sama jatuh di berbagai jenis tanah: di pinggir jalan, di tanah berbatu, di semak duri, dan di tanah yang subur. Meskipun bagian penjelasan lengkap tentang jenis-jenis tanah disampaikan pada ayat-ayat berikutnya, bagian ini sudah mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita menerima Sabda Allah.

 

Sang penabur menaburkan benih dengan murah hati tanpa memilih-milih tempat. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah lelah menyampaikan kasih dan firman-Nya kepada semua orang. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari undangan untuk mendengarkan dan mengalami Kerajaan Allah. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana kondisi hati kita saat menerima Sabda Tuhan?

 

Di tengah kesibukan, tuntutan pekerjaan, arus informasi yang begitu cepat, dan berbagai kekhawatiran hidup, hati kita dapat menjadi seperti tanah yang keras, berbatu, atau dipenuhi semak duri. Sabda Tuhan didengar, tetapi tidak sungguh dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Iman bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan, melainkan keterbukaan hati terhadap karya Roh Kudus. Setiap orang beriman dipanggil untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus yang hidup. Perjumpaan itu mengubah hati dan menjadikan kita murid-murid yang siap mewartakan Injil. Paus Fransiskus sering mengingatkan tentang bahaya “hati yang tertutup,” yaitu sikap yang membuat kita merasa sudah cukup baik, tidak mau mendengarkan, atau tidak terbuka terhadap perubahan. Sebaliknya, hati yang subur adalah hati yang rendah hati, mau belajar, dan bersedia membiarkan Sabda Allah membentuk cara berpikir dan bertindak.

 

Menjadi tanah yang subur berarti memberi ruang bagi Tuhan melalui doa, membaca Kitab Suci, menerima sakramen, dan melayani sesama. Sabda Allah tidak boleh berhenti di telinga, tetapi harus berbuah dalam tindakan nyata: mengampuni, berbagi, memperjuangkan keadilan, dan merawat ciptaan. Sebagai murid misioner, kita juga dipanggil untuk menjadi penabur harapan di tengah dunia. Seperti Allah yang murah hati menaburkan benih-Nya, kita pun diutus untuk menebarkan kasih, damai, dan sukacita Injil tanpa membeda-bedakan.

 

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk memeriksa kondisi hati kita. Apakah hati kita cukup terbuka untuk menerima benih Sabda-Nya? Apakah kita memberi ruang bagi Tuhan untuk bertumbuh dan menghasilkan buah dalam hidup kita? Tanah seperti apakah hati saya saat ini?

Category: