
Sabda yang Membawa Kebahagiaan
Hari Minggu Biasa IV
Peringatan Beata Maria Anna Vaillot
dan Beata Odilia Baumgarten
Markus 4:26-34
Injil hari ini mengisahkan Yesus yang naik ke bukit, duduk, dan mulai mengajar. Sikap Yesus ini penting: Ia tidak berteriak dari jauh, tetapi mengundang orang-orang untuk mendekat, mendengarkan, dan tinggal bersama-Nya. Yesus mengajarkan tentang 8 Sabda Bahagia. Sabda Bahagia bukanlah tuntutan moral yang berat, melainkan cara hidup baru yang lahir dari relasi intim dengan Allah.
Dunia sering mengajarkan bahwa bahagia berarti kuat, kaya, diakui, dan menang. Namun Yesus membalik logika itu. Ia menyebut berbahagia mereka yang miskin, lemah lembut, lapar akan keadilan, berdukacita, bahkan yang dianiaya, bukan karena penderitaan itu sendiri, melainkan karena Allah hadir secara istimewa dalam kondisi-kondisi rapuh tersebut.
Sabda Bahagia mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri: di bagian mana hidup kita masih menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal duniawi? Di mana kita sulit percaya bahwa Allah cukup? Menjadi miskin di hadapan Allah berarti menyadari bahwa tanpa Dia kita tidak bisa apa-apa, dan dengan Dia kita memiliki segalanya.
Hari ini kita juga memperingati Beata Maria Anna Vaillot dan Beata Odilia Baumgarten. Mereka adalah para Suster Puteri Kasih yang bertugas di Rumah sakit St. Yohanes di Angers. Mereka termasuk dalam bilangan 97 martir dari Angers. Keduanya berhadapan dengan regu tembak, setelah menolak mengucapkan sumpah setia kepada Konstitusi Revolusioner (yang berarti melawan agama dan Gereja). Tahun 1793 seluruh religius di Perancis wajib mengucapkan sumpah setia kepada Konstitusi Revolusioner. Menolak sumpah berarti hukuman mati. Tanggal 1 Februari 1794 mereka ditembak mati bersama dengan para martir yang lain. Kemartiran adalah buah cinta yang meluap-luap kepada Kristus.
“Kita akan melihat Allah selamanya. Kita akan berjumpa dengan Dia. Kita akan menjadi milikNya sampai selama-lamanya, tanpa sedikit pun kekhawatiran untuk dipisahkan daripadaNya”. Demikian kata-kata penghiburan dari Sr. Maria Anna (yang sementara menunggu giliran) kepada Sr. Odilia yang rebah karena tembakan para algojo. Mereka adalah termasuk dari orang-orang yang mendengarkan Sabda Bahagia, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan Surga”. Keteguhan iman, kemurahan hati dan ketekunan dalam penderitaan para Suster telah membuahkan mahkota kemartiran suci bagi mereka dan kerajaan Surga menjadi ganjaran bagi mereka.
Marilah berdoa, “Tuhan, ajar kami untuk menemukan kebahagiaan sejati bukan dalam memiliki tetapi dalam berserah kepadaMu”.