Ketika Berkat Diusir Karena Takut Rugi

pexels-freestockpro-12955822

KETIKA BERKAT DIUSIR
KARENA TAKUT RUGI

Hari Rabu Pekan Biasa XIII
Matius 8:23-27

​Bayangkan sebuah wilayah yang dicekam ketakutan. Ada dua orang yang kerasukan setan begitu hebat, tinggal di pekuburan, dan sangat biadab sampai-sampai tidak ada seorang pun yang berani melewati jalan itu. Daerah itu lumpuh oleh teror. Namun kehadiran Yesus di daerah itu mengubah segalanya. Dengan penuh kuasa Yesus dapat mengusir setan dari kedua orang itu dan setan-setan itu masuk ke dalam babi-babi milik penduduk Gadara. 

 

Dari perikop ini mengingatkan kita bahwa kehadiran Yesus selalu membawa pembebasan bagi kita. Tidak ada keterikatan yang terlalu kuat yang tidak bisa dilepaskan oleh Yesus. Entah itu keterikatan pada dosa masa lalu, kecanduan, kepahitan, atau rasa trauma yang membuat kita merasa “mati” di dalam hati, Yesus sanggup dan mau memulihkan kita. Bagi Yesus, kesembuhan dan keselamatan jiwa manusia jauh lebih berharga daripada harta benda duniawi. Yesus rela “mengorbankan” ekonomi daerah itu demi mengembalikan martabat dan hidup dua orang yang selama ini dianggap sampah masyarakat.

Pada ayat terakhir (ayat 34) penduduk kota itu mengusir Yesus agar cepat-cepat pergi dari situ. Mereka lebih mencemaskan kehilangan babi-babi mereka daripada mensyukuri keselamatan jiwa manusia. Mereka takut kehadiran Yesus selanjutnya akan mengganggu kenyamanan, bisnis, dan zona nyaman mereka

 

Apakah kita menilai hidup ini hanya berdasarkan untung-rugi materi, sampai-sampai kita mengabaikan perkara rohani dan keselamatan jiwa? Yesus tidak pernah memaksa untuk tinggal di tempat yang menolak-Nya. Ketika penduduk Gadara mengusir-Nya, Yesus pergi. Jangan sampai karena kita terlalu mencintai “babi-babi” kita (harta, ambisi, kenyamanan berdosa), kita justru mengusir Sang Sumber Berkat sejati dari hidup kita.

Category: