Ketulusan Hati Melayani

pexels-eren-li-7241480 (1)

Ketulusan Hati Melayani

Peringatan Wajib St. Skolastika
Markus 6:53-56

Dalam bacaan Injil hari ini, orang-orang Farisi dan ahli Taurat mempersoalkan murid-murid Yesus yang makan tanpa membasuh tangan sesuai adat istiadat. Yesus menjawab dengan keras, mengutip Nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.“ Yesus mengkritik bagaimana perintah Allah seringkali dikesampingkan demi mempertahankan tradisi buatan manusia.


Orang Farisi terjebak pada legalisme atau ketaatan buta pada aturan luar namun melupakan esensi kasih. Mereka sangat teliti soal cuci tangan, tapi menutup mata terhadap kebutuhan orang tua mereka. Sebaliknya spiritualitas Vinsensian sangat menekankan ketulusan hati. Santo Vinsensius sering memperingatkan agar para pelayan kaum miskin tidak terjebak pada rutinitas yang kering, hampa tanpa makna. Baginya, doa dan pelayanan harus menyatu. Jika kita melayani orang miskin hanya karena kewajiban atau aturan organisasi tanpa disertai kasih yang tulus, kita sedang menjadi “Farisi modern.”


Yesus mengecam kemunafikan, ketika apa yang diucapkan tidak sama dengan apa yang ada di hati. Seorang Vinsensian diajarkan nilai kesederhanaan (
Simplicity). Kesederhanaan dalam tradisi Vinsensian berarti keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Bukan soal seberapa hebat kita berteori dan bukan soal seberapa rapi ritual kita di gereja. Tetapi seberapa jujur kita mengakui kehadiran Tuhan dalam diri orang-orang yang menderita. Amen.

Category: