Sebuah “Pemborosan” yang Mengharukan

pexels-vivdnz-15287595

sebuah “pemborosan”
yang mengharukan

Peringatan St. Louis Martin, SSVP
(Orang Kudus Vinsensian)
Matius 13:1-9 

Halo Sahabat Vinsensian sekalian! 

 

Hari ini, lewat Injil Matius, kita diajak nemenin Yesus ngobrol soal perumpamaan seorang penabur. Kita semua sudah khatam banget lah ya sama artinya, yang dimana Penaburnya itu Tuhan, benihnya itu Firman-Nya, dan tanahnya adalah kondisi hati kita masing-masing. Tapi, pernah gak sih kepikiran satu hal ini: Kenapa sang Penabur terkesan “sembarangan” banget menabur benih? 

 

Secara logika manusia, kenapa Dia tetap membuang benih berharga di pinggir jalan yang keras, di atas batu, atau di semak belukar yang jelas-jelas bakal bikin benih itu mati? Bukankah itu sebuah kesia-siaan? Kebodohan? Atau pemborosan? 

 

Nah, jawaban dari pertanyaan ini justru tersimpan rapi dalam refleksi Dua Orang Kudus sahabat Vinsensian, yaitu St. Vinsensius a Paulo dan St. Luisa de Marillac. Ketika mereka merenungkan peristiwa Inkarnasi-momen di mana Tuhan rela mengosongkan diri-Nya menjadi manusia- mereka sampai pada sebuah kekaguman yang luar biasa: “Bahwa Allah bagaimanapun juga tidak dapat atau tidak mau dipisahkan dari manusia.” Kalimat ini asli, mengharukan banget. Tuhan kita itu saking bucinnya (humbled and full of love) sama manusia, Dia gak mau dan gak bisa dipisahkan dari kita. 

 

Dari sinilah kita akhirnya paham alasan di balik “kebodohan” sang Penabur tadi. Allah yang murah hati itu gak peduli seberapa borosnya Dia membagikan rahmat. Dia gak peduli seberapa keras, berbatu, atau penuh semak durinya hati kita. Dia tetap memberikan porsi kasih yang sama rata, tanpa pilih kasih, dan tanpa peduli kita ini layak atau enggak karena Dia cuma ingin satu hal: Merangkul kita apa adanya. 

 

Nah, menariknya, “keborosan” Allah ini dijawab dengan indah oleh Nabi Yesaya dalam Bacaan Pertama hari ini.Nabi Yesaya bilang kalau firman Tuhan itu seperti hujan dan salju yang turun dari langit. Hujan itu gak akan kembali ke langit dengan sia-sia sebelum ia mengairi bumi, membuatnya subur, dan menumbuhkan benih-benih di dalamnya. 

 

Artinya apa? Bagi Allah, gak ada yang namanya sia-sia. 

 

Lewat taburan benih-Nya yang tak pernah berhenti, Dia dengan setia berjaga dan berharap: Suatu hari nanti, hati yang keras ini akan melunak, menjadi tanah yang subur, lalu bertumbuh dan berbuah. 

 

Sahabat Vinsensian, yuk kita bawa refleksi ini ke dalam keheningan hati kita hari ini: “Apakah aku menyadari kasih Allah yang ugal-ugalan ini terhadap diriku-manusia yang seringkali berhati batu dan penuh dengan semak duri kekhawatiran duniawi?” Selamat merenung dan selamat berakhir pekan! Tuhan memberkati proses bertumbuhnya hati kita masing-masing.

Category: