
Tiga pelajaran peziarahan
HARI BIASA PEKAN I PRAPASKAH
Lukas 11: 29-3
Kisah Yunus yang tercatat dalam Injil hari ini (Luk 11:29-32) adalah sebuah cermin yang memantulkan perjalanan iman kita. Tuhan memanggil Yunus untuk menjadi pewarta Injil bagi penduduk Niniwe, namun ia mencoba menghindar, berlari dari panggilan-Nya. Tetapi Tuhan, dengan cara-Nya yang penuh rahmat, membimbing Yunus melalui perjalanan iman yang luar biasa, mengubahnya dalam cara yang tak terbayangkan. Sebuah kisah yang sebanding dengan perjalanan hidup Vinsensius. Dalam mengejar ambisi dan keinginan pribadi, ia mengalami kegagalan demi kegagalan. Namun Tuhan tak pernah meninggalkannya. Di tengah kemalangan itu, Tuhan mengarahkan Vinsensius untuk menyerahkan seluruh hidupnya, menjadi pewarta kabar gembira bagi orang miskin. Kata Vinsensius: “Melayani orang miskin berarti melayani Tuhan. Mengasihi orang miskin berarti mengasihi Tuhan. Mengunjungi rumah orang miskin berarti menjumpai Tuhan sendiri.”
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah-kisah ini? Pertama, Tuhan memberikan panggilan kepada setiap hati. Janganlah kita menjauh atau lari dari panggilan-Nya. Bila kita mencoba menghindar, Tuhan dengan lembut akan membawa kita kembali ke jalan-Nya, agar kita lebih mencintai-Nya dan terfokus pada-Nya. Kedua, betapa pentingnya pertobatan. Pertobatan adalah pintu untuk merasakan kasih Tuhan yang begitu besar. Seperti yang dialami Yunus dan Vinsensius, pertobatan mengajarkan kita untuk tidak putus asa ketika Tuhan memproses hidup kita. Tujuan-Nya adalah agar kita lebih peka dan selaras dengan panggilan-Nya.
Pelajaran ketiga adalah bahwa rancangan Tuhan jauh lebih indah, lebih mulia, dan lebih besar daripada cita-cita atau ambisi pribadi kita. Oleh karena itu, kita diajak untuk tunduk dan taat pada-Nya, agar kita dibentuk menjadi “bejana” yang indah, yang siap dipakai-Nya. Kita diajak untuk melepaskan agenda pribadi dan menjadikan diri kita alat Tuhan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa. Berani bertobat dari ambisi pribadi, berani melepaskan kesenangan kita untuk mengikuti kehendak-Nya.
“Marilah kita berusaha menjadi milik Tuhan sepenuhnya, dan Dia akan menjadi milik kita seutuhnya. Bersama-Nya, kita akan memiliki segalanya.”