Percaya Diri Bukan Gengsi “Berakar pada Tuhan, Bukan pada Pujian”

pexels-redrum-visuals-5819292

Percaya Diri Bukan Gengsi
“Berakar pada Tuhan,
Bukan pada Pujian”

Peringatan St. Martinus I
Yohanes 3:1-8

Dalam perjalanan hidup, sering kali garis antara “percaya diri” dan “gengsi” menjadi kabur. Gengsi sering kali merupakan topeng yang kita pakai agar terlihat hebat di mata orang lain; ia haus akan pengakuan dan takut akan celaan. Sebaliknya, percaya diri yang sejati adalah ketenangan batin karena menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki atau apa kata orang, melainkan oleh kasih Tuhan yang ada dalam diri kita. Dalam kitab Amsal 16:18 mengatakan bahwa “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan (gengsi) adalah pondasi yang rapuh. 


Belajar dari Santo Vinsensius dan santa luisa, pribadi yang sangat percaya diri namun jauh dari kata gengsi. Santo Vinsensius sering bergaul dengan kaum bangsawan dan penguasa, bukan untuk mencari nama atau kedudukan, melainkan untuk meyakinkan mereka agar membantu kaum miskin. Ia tidak malu mengetuk pintu-pintu istana karena ia percaya diri pada misi yang Tuhan berikan. Ia membuang gengsinya demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan bagi sesama. Sedangkan Santa Louisa adalah sosok yang tekun dan sangat teliti. Ia tidak mencari panggung atau pengakuan atas kerja kerasnya mendirikan serikat Puteri Kasih. Kepercayaan dirinya muncul dari kepasrahan total pada kehendak Tuhan. Ia mengajarkan bahwa melayani orang sakit dan miskin adalah kehormatan tertinggi, meskipun dunia menganggapnya sebagai pekerjaan yang rendah. 


Saat kita melayani atau berkarya hanya demi gengsi, kita sedang membangun di atas pasir. Namun, saat kita percaya diri karena mengandalkan kekuatan Tuhan, kita sedang membangun di atas batu karang. Percaya diri yang kudus berkata, “Saya mampu karena Tuhan memampukan saya,” sedangkan gengsi berkata, “Lihatlah betapa hebatnya saya.“ maka kita pun diajak untuk menyadari bahwa Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi hebat, tetapi untuk menjadi setia.

Category: