Perjumpaan yang Menyembuhkan

pexels-romario-art-1238178125-22939008

Perjumpaan yang Menyembuhkan

Hari Jumat Pekan Biasa V
Markus 7:31-37

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus melakukan tindakan yang sangat personal. Ia memisahkan orang itu dari orang banyak, memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidahnya. Dengan mendongak ke langit, Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata “Effata!“ yang berarti “Terbukalah!“.


Dalam dunia yang serba cepat dan digital saat ini, kita sering kali “mendengar“ tanpa benar-benar mendengarkan. Tindakan Yesus mengajarkan kita bahwa penyembuhan dan kasih sejati membutuhkan kehadiran fisik, sentuhan empati, dan waktu yang dikhususkan.


Yesus tidak menyembuhkan orang ini dari kejauhan. Ia membawa orang itu keluar dari keramaian agar bisa berinteraksi secara pribadi. Ia menyentuh bagian yang sakit (telinga dan lidah). Dalam Spiritualitas Vinsensian, orang miskin bukan sekadar “angka statistik“ atau “objek amal“. Santo Vinsensius mengajarkan kita untuk melayani dengan kontak pribadi. Seorang Vinsensian dipanggil untuk memberikan waktu, mendengarkan keluh kesah, dan menyentuh luka-luka kemiskinan dengan kelembutan. Pelayanan yang sejati membutuhkan kehadiran fisik dan hati yang mau “terlibat“ secara personal.


Sebelum kita bisa membantu orang lain, “telinga“ batin kita harus dibuka (Effata) oleh Tuhan agar kita mampu mendengar jeritan kaum miskin yang sering kali tidak terdengar (tersamar). Setelah telinga terbuka, maka “lidah“ kita akan terlepas untuk menyuarakan kebenaran dan membela hak-hak mereka yang tertindas. Santo Vinsensius sering menjadi “suara bagi mereka yang tak bersuara.” Ia berbicara di depan para bangsawan dan raja untuk mewakili kepentingan rakyat yang kelaparan. Seperti Yesus yang melepaskan ikatan lidah si bisu, seorang Vinsensian dipanggil untuk menjadi advokat bagi kaum marginal. Tuhan memberkati. Amin.

Category: