
Yesus Berada dalam
Diri Orang Miskin
Hari Senin dalam Pekan Suci
Yohanes 12:1-11
Yudas Iskariot melarang Maria menuangkan minyak narwastu di kaki Yesus. Larangan Yudas memiliki maksud lain selain alasan yang diungkapkannya dengan alasan “Lebih baik minyak itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin”. Injil Yohanes memberi catatan khusus tentang Yudas bahwa Yudas sering mengambil uang kas yang dipegangnya. Yesus mengetahui maksud buruk Yudas dengan memberi teguran bahwa orang miskin selalu ada pada kita. Yudas sudah menunjukkan di hadapan Yesus sikap pengkhianatannya dan melihat segala sesuatu dalam kacamata uang. Sementara Maria menunjukkan sikap penghormatan akan kasihnya yang besar kepada Yesus. Maria justru tidak berpikir untung-rugi ketika ia harus menunjukkan kasihnya kepada Yesus.
Yesus menghargai penghormatan orang yang cinta kepada-Nya. Yesus manusia yang peka, penuh perasaan terima kasih kepada setiap orang yang menaruh perhatian kepada-Nya. Sikap perhatian itu dilakukan oleh Maria. Namun kepekaan dan sikap kasih Yesus kepada manusia justru sering dilawan oleh mereka yang haus akan hal-hal duniawi.
Sikap seorang vinsensian didasari pada kasih kepada Yesus yang akhirnya tertuju pada pelayanan bagi mereka yang membutuhkan. Pelayanan kepada orang miskin didasari pada suatu ketulusan dan mampu melihat Tuhan yang hadir dalam diri mereka. Pelayanan bukan sebagai alibi untuk kepentingan diri sendiri, melainkan sebagai kesempatan untuk melihat betapa berharganya kasih Tuhan yang mau hadir dalam hidup kita. Dengan demikian kita akan mampu memberikan perhatian yang total kepada mereka yang menderita.