
Siapakah Yesus Bagi Kita?
Hari Minggu Adven III
Lukas 1:5-25
Dalam Injil hari ini, kita mendengar pertanyaan Yohanes Pembaptis kepada Yesus, “Apakah Engkau yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yohanes, yang ada di dalam penjara, meragukan apakah Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Yesus menanggapi dengan mengingatkan Yohanes tentang tanda-tanda kerajaan Allah yang sudah nyata: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, dan orang mati dibangkitkan. Yesus mengajarkan bahwa tanda-tanda ini adalah bukti bahwa kerajaan Allah telah datang. Meskipun Yohanes masih ragu, Yesus mengajak kita untuk melihat lebih dalam pada pekerjaan yang dilakukan-Nya dan hidup-Nya sebagai penggenapan janji Allah yang membawa keselamatan.
Pertanyaan Yohanes yang meragukan Yesus sebagai Mesias bukan hanya menggambarkan keraguannya, tetapi juga sebuah ajakan bagi kita untuk menguji iman kita sendiri. Apakah kita mengenal Yesus tidak hanya dari kata-kata, tetapi juga dari karya-Nya? St. Vinsensius de Paul mengajarkan kita untuk melayani orang miskin dengan penuh kasih, mengingatkan kita bahwa di dalam diri mereka kita melayani Yesus sendiri. Seperti yang dikatakan St. Vinsensius, “Betapa besar penghiburan yang akan anda alami saat kematian tiba, karena telah menghabiskan seluruh hidup untuk tujuan yang sama yang mendorong Yesus memberikan hidup-Nya sendiri, yaitu demi kasih, demi Allah, demi orang miskin” (SV III, 120). Penghayatan terhadap kasih ini akan membantu kita lebih memahami siapa Yesus bagi kita: bukan hanya guru atau nabi, tetapi juga Tuhan yang hadir dalam setiap diri yang menderita dan membutuhkan.
Untuk menghidupi ajaran Yesus, kita perlu membuka hati kita dan melihat tanda-tanda kerajaan Allah di sekitar kita, terutama dalam penderitaan sesama. Seperti St. Vinsensius yang menekankan pentingnya pelayanan kepada orang miskin, kita diajak untuk tidak hanya mendengar tentang Yesus, tetapi untuk mengalami kehadiran-Nya melalui perbuatan nyata dalam kasih dan pelayanan. Dalam kehidupan kita yang serba sibuk ini, kita harus mampu menjawab panggilan untuk melayani dengan rendah hati, mengutamakan kasih yang tanpa syarat. Yesus mengajarkan kita untuk menjadi rendah hati, dan seperti yang diajarkan oleh St. Vinsensius, “Kasih adalah jiwa semua keutamaan, dan kerendahan hatilah yang menarik dan menjaga keutamaan-keutamaan itu” (DBSV V, 1). Dengan demikian, kita dapat menjadi saksi nyata dari kasih Kristus di dunia ini.