Kehilangan Rasa Kagum

Screenshot

Kehilangan Rasa Kagum

Peringatan St. Kamillus dari Lellis
Matius 11:20-24

Halo Sahabat Vinsensian! Selamat hari Selasa. 

Tahun 2007 lalu, ada sebuah eksperimen sosial yang viral banget di stasiun bawah tanah Washington. Seorang musisi bernama Joshua Bell menyamar menjadi pengamen. Dia bukan musisi sembarangan, melainkan salah satu pemain biola terbaik di dunia. Hari itu, dia memainkan lagu klasik paling rumit menggunakan biola langka yang harganya puluhan miliar rupiah. 


Hasilnya? Dari ribuan orang kantoran yang lewat mondar-mandir, cuma ada sekitar 7 orang yang beneran berhenti untuk mendengarkan. Sisanya? Cuek bebek dan jalan terus. Mereka tidak sadar kalau sedang mendapatkan konser gratis dari seorang maestro dunia secara cuma- cuma. Kenapa? Karena cara pandang mereka sudah terkunci: “Ah, paling cuma pengamen biasa.” Mereka kehilangan rasa kagum karena keseringan terburu-buru dan terjebak rutinitas. 


Nah, nasib Joshua Bell ini mirip banget dengan apa yang dialami Yesus dalam Injil hari ini. 

 

Yesus mengecam keras tiga kota: Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Kenapa? Karena di tiga kota inilah Yesus paling sering membuat mukjizat. Orang sakit sembuh, air jadi anggur, pokoknya show kebaikan Tuhan itu ada di sana setiap hari.

 

Tapi saking seringnya Yesus membuat mukjizat di depan mata mereka, orang-orang di kota itu malah kena penyakit “loss of wonder”-alias kehilangan rasa kagum. Mereka menganggap mukjizat Tuhan itu ya biasa saja, template harian, atau cuma tontonan hiburan yang lewat. Tidak ada yang membuat mereka bertobat atau makin sayang sama Tuhan. Hatinya tetap bebal dan flat.


Jujur ya, sering kali kita yang mengaku anak Tuhan atau rajin ke gereja juga mengalami hal yang sama. Kita terjebak di zona nyaman rohani. 


Doa tiap hari tapi cuma formalitas biar tidak merasa bersalah, bukan karena kangen sama Tuhan. Bangun pagi masih bisa bernafas gratis, badan sehat, ada makanan di meja, tapi kita anggap itu “ya memang sudah seharusnya begitu”, bukan lagi sebagai mukjizat kebaikan Tuhan. Kita gagal melihat Sang Maestro Kehidupan yang sedang menyapa kita dalam rutinitas. 

 

Di sinilah kita sebenarnya diajak untuk meneladani Santo Vinsensius de Paul dan Santa Luisa de Marillac. Mereka adalah pribadi yang tidak pernah kehilangan rasa kagum kepada Tuhan karena mereka memiliki “radar iman” yang luar biasa tajam. 

 

St. Vinsensius pernah berpesan agar kita jangan pernah menilai sesuatu hanya dari penampilan luar yang biasa. Baginya, jika kita membalik lembaran hidup ini dengan cahaya iman, kita akan menemukan wajah Yesus yang sedang “menyamar”-baik dalam peristiwa sehari-hari maupun dalam diri sesama yang miskin dan menderita. Begitu juga dengan St. Luisa de Marillac, yang mengajarkan untuk selalu setia dan bersyukur atas tugas-tugas kecil harian. Bagi mereka berdua, rutinitas bukanlah alasan untuk menjadi hambar, melainkan ruang tempat Tuhan membagikan mukjizat kasih-Nya yang sederhana. 

 

Nabu Yesaya dalam Bacaan Pertama hari ini sebenarnya sudah mengingatkan Raja Ahas-dan kita semua-untuk: “Teguhkan hatimu dan tinggal tenang.” Ketenangan dan keteguhan hati itu hanya bisa kita dapatkan kalau kita mau mengambil jeda, meniru ketajaman hati para orang kudus pelindung kita, untuk melihat kehadiran Tuhan di hal-hal kecil.

 

Tuhan itu tidak kurang-kurang flexing kasih-Nya ke kita lewat hal-hal sederhana setiap hari. Jangan sampai kita seperti orang- orang di stasiun bawah tanah tadi, atau seperti warga Kapernaum yang sibuk dengan urusan sendiri sampai abai pada kehadiran Tuhan yang begitu dekat. 

 

Sahabat Vinsensian, sebelum lanjut scrolling atau kerja lagi, yuk ambil jeda 5 detik untuk berpikir: “Kira-kira, mukjizat kecil apa hari ini yang sudah Tuhan kasih tapi cuma aku anggap angin lalu? Apakah aku masih bisa bersyukur buat hal-hal kecil itu?” 


Yuk, asah lagi kepekaan hati kita hari ini biar tidak gampang salty dan bisa melihat kebaikan Tuhan. Have a blessed Tuesday!

Category: