Berdoa untuk Diubah, Bukan Dipuji

pexels-anastasia-shuraeva-6305645

Berdoa untuk Diubah, Bukan Dipuji

Hari Sabtu Pekan Prapaskah III
Lukas 18:9-14

Saudara-Saudari terkasih,

Kadang tanpa sadar, kita datang kepada Tuhan bukan untuk diubah… tetapi untuk dipuji. Kita berdoa seperti orang Farisi — menceritakan kebaikan diri, membandingkan dengan orang lain, berharap Tuhan mengangguk setuju dengan kesalehan kita. Kita lupa bahwa doa bukanlah panggung untuk menunjukkan siapa yang paling benar, tetapi ruang sunyi di mana kita membiarkan Tuhan menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya.

Yesus menunjukkan jalan yang berbeda. Ia menyoroti seorang pemungut cukai yang berdiri jauh, menundukkan kepala, dan berbisik lirih, “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.” Tidak ada pembenaran diri, tidak ada topeng rohani. Hanya hati yang hancur, yang tahu bahwa tanpa kasih karunia, ia tak punya apa pun untuk dibanggakan. Dan justru di sanalah Tuhan berkenan—karena kerendahan hati membuka ruang bagi kasih-Nya bekerja dengan lembut namun nyata. Doa sejati bukanlah upaya untuk terlihat lebih rohani, melainkan proses menjadi lebih serupa dengan Tuhan. Dalam setiap pertemuan dengan-Nya, kita belajar untuk melepas kesombongan, menerima keterbatasan, dan membiarkan kasih-Nya membentuk kita dari dalam.

Hari ini, mari kita berani berdoa bukan untuk dilihat, tetapi untuk diubah. Katakan dengan tulus, “Tuhan, bentuklah hatiku. Hancurkan kesombongan di dalam diriku. Jadikan aku pribadi yang mencerminkan kasih, kerendahan, dan belas kasihan-Mu.” di hadapan Tuhan, yang paling tinggi adalah hati yang mau merendah. Di situlah doa berhenti menjadi ritual… dan mulai menjadi perubahan. Amin.

Category: