MENGAPA KITA MENYANGKAL-NYA?

pexels-mabelamber-133682

MENGAPA KITA MENYANGKAL-NYA?

Hari Selasa dalam Pekan Suci
Yohanes 13:21-33.36-38

“Tidak mungkin kita sampai di surga kecuali melalui penderitaan. Tetapi tidak berarti bahwa semua orang yang menderita akan memperoleh keselamatan, melainkan mereka yang menderita dengan senang hati demi kasih kepada Yesus Kristus.” (SVAP)

Dalam Injil hari ini, dikisahkan bagaimana Yesus dikhianati Yudas Iskariot dan kemudian disangkal Simon Petrus. Meski Tuhan sudah mengetahui bahwa semua penolakan dan penderitaan itu harus Ia alami, namun dapat kita bayangkan bagaimana kesedihanNya saat orang yang paling dekat denganNya, yang selalu bersamaNya, melihat perbuatan-perbuatan baik yang telah dibuatNya, kini berbalik mengkhianati dan menyangkalNya. Mengapa bisa terjadi demikian? Kurangkah cinta Tuhan pada para muridNya?


Dalam pelayanan kita kepada mereka yang miskin dan terpinggirkan, kita kerap mengeluh karena mereka yang kita layani tidak bersikap seperti yang kita harapkan. Ada yang justru menggantungkan hidupnya pada bantuan yang kita beri, tidak tahu berterima kasih, dan bahkan tidak bersyukur dan terus merasa kurang hingga melakukan tindakan kriminal. Kita kemudian menghakimi mereka, memberikan stempel negatif dan tidak lagi mau membuka hati untuk menolong atau untuk sekedar hadir sebagai saudara.


Saudara yang terkasih, seringkali kita hanya berhenti pada realitas pengkhianatan dan penolakan, tapi kurang mau terbuka untuk melihat lebih jauh bagaimana Yesus menyikapi pengkhianatan yang dialamiNya. Adakah Ia menyimpan dendam dan meninggalkan begitu saja para muridNya yang hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian? Tidak! Dia tidak pernah lelah untuk mengingatkan dengan penuh kasih para muridNya agar tetap berada di jalan yang telah ditunjukkanNya. Demikian jugalah seharusnya kita. Prasangka negatif, menutup hati pada orang yang berkesusahan, sesungguhnya hanya membawa kita menjadi Petrus yang lain karena kita telah menyangkal cinta Tuhan. Tuhan telah mencintai kita sampai sehabis-habisnya, adakah kita memiliki alasan untuk tidak mencintaiNya dengan mencintai sesama kita?

Category: