Kekuasaan yang Sejati dalam Kristus

view-people-exchanging-goods

Kekuasaan yang Sejati
dalam Kristus

Hari Senin Pekan Adven III
  Matius 21:23-27

Dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi pertanyaan dari para pemuka bangsa Yahudi yang mempertanyakan kekuasaan-Nya dalam mengajar dan melakukan karya-karya-Nya. Mereka bertanya, “Dengan kuasa apakah Engkau melakukan semuanya itu?” Yesus menjawab dengan sebuah pertanyaan yang memutar balikkan situasi: “Jawablah dulu pertanyaan-Ku, maka Aku akan memberitahu kamu dengan kuasa apa Aku melakukan ini.” Yesus kemudian mengajukan pertanyaan tentang baptisan Yohanes yang berasal dari surga atau dari manusia. Para pemuka agama itu terjebak dalam kebingungan, karena jika mereka mengatakan dari surga, maka Yesus akan menanyakan mengapa mereka tidak mempercayai Yohanes, sementara jika mereka mengatakan dari manusia, mereka takut akan reaksi orang banyak yang menganggap Yohanes seorang nabi. Akhirnya, mereka memilih untuk menjawab “Kami tidak tahu”. Yesus, dengan bijaksana, mengajarkan mereka bahwa kekuasaan sejati datang dari Allah, bukan dari kepentingan pribadi. 

 

Pernyataan Yesus tentang kekuasaan-Nya adalah ajakan untuk kita merenungkan sumber kekuatan dan kekuasaan dalam hidup kita. Banyak kali kita terjebak dalam pencarian pengakuan dari dunia, mencari otoritas yang datang dari jabatan, status, atau kekuasaan. Namun, seperti yang diajarkan oleh St. Vinsensius de Paul, kekuatan sejati bukan berasal dari kekuasaan atau posisi, tetapi dari kerendahan hati dan pelayanan. St. Vinsensius berkata, “Kita harus berjuang tanpa henti untuk memperoleh keutamaan kerendahan hati dan menjadi semakin sempurna dalam penghayatannya, dan terutama harus berjaga-jaga terhadap segala pikiran yang dijiwai kesombongan, ambisi, dan kecongkakan” (DBSV V, 73). Kekuasaan sejati dalam hidup kita datang dari kesediaan untuk melayani dan mengikuti kehendak Allah, bukan dari upaya kita untuk mendapatkan pengakuan atau kekuasaan.

 

Untuk menghidupi ajaran Yesus tentang kekuasaan, kita perlu menyadari bahwa hidup kita harus didasarkan pada prinsip pelayanan, bukan untuk mencari kekuasaan atau keuntungan pribadi. Seperti St. Vinsensius yang melayani orang miskin dengan kasih tanpa pamrih, kita dipanggil untuk melayani dengan tulus hati dan rendah hati. St. Vinsensius menekankan pentingnya hidup dalam semangat kasih, yang tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi selalu berfokus pada pelayanan kepada sesama, terutama yang lemah dan membutuhkan. Sebagai umat Kristiani, kita diajak untuk menyadari bahwa kekuasaan kita dalam hidup bukanlah karena jabatan atau penghargaan yang kita terima, tetapi karena kita mewakili kasih dan kehendak Allah dalam setiap perbuatan kita. “Kasih adalah jiwa semua keutamaan” (DBSV V, 1), dan dengan hidup dalam kasih, kita akan menemukan kekuasaan yang sejati dalam Kristus.

Category: