
Rahasia Hebat yang Ditemukan
di Bawah Lutut
Perayaan Wajib St. Bonaventura
Matius 11:25-27
Halo Sahabat Vinsensian! Selamat hari Rabu.
Pernah gak sih kamu ketemu orang yang pinteeerrr banget atau jabatannya tinggi, tapi kalau diajak ngomong bawaannya meremehkan orang lain? Di sisi lain, pernah gak ketemu orang sederhana; mungkin petugas kebersihan atau ibu rumah tangga yang kalau berbicara justru sangat adem, penuh hikmat, dan bijaksana?
Ada sebuah kisah menarik dari laboratorium Thomas Alva Edison. Suatu hari, Edison meminta seorang asisten muda lulusan universitas ternama untuk menghitung volume udara di dalam sebuah bola lampu kosong.
Si pemuda langsung sibuk berjam-jam coret-coret kertas, menghitung pakai rumus kalkulus dan geometri yang sangat rumit dengan dahi mengkerut. Ketika dia membawa hasil hitungannya dengan bangga, Edison cuma tersenyum. Edison mengambil bola lampu itu, mengisinya dengan air sampai penuh, lalu menuangkannya ke gelas ukur. Kurang dari satu menit, volume aslinya langsung ketahuan. Si pemuda terdiam dan tersipu malu. Kepintarannya justru membuat dia melupakan cara yang paling sederhana.
Kisah ini mirip banget dengan apa yang ditegur oleh Yesus dalam Injil hari ini: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa… karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Orang “bijak dan pandai” yang dimaksud Yesus adalah orang yang merasa dirinya sudah hebat dan mengandalkan logikanya sendiri sampai menutup diri dari Tuhan.
Sama seperti Raja Asyur dalam Bacaan Pertama: Apakah kapak bisa menyombongkan diri terhadap orang yang menggunakannya? Sepintar apa pun kita, kita hanyalah “alat” di tangan Tuhan sang Tukang Kayu.
Hari ini kita juga memperingati Santo Bonaventura, seorang profesor teologi yang sangat genius. Rahasia kehebatannya ternyata bukan di otaknya yang encer, melainkan di lututnya. Beliau selalu belajar sambil bersujud di bawah salib Yesus.
Bagi kita sebagai Sahabat Vinsensian, renungan hari ini adalah inti dari seluruh warisan rohani Santo Vinsensius a Paulo dan Santa Luisa de Marillac. Dua orang kudus ini mengajarkan tiga hal mendasar:
* Kerendahan Hati yang Praktis:
St. Vinsensius selalu mengingatkan bahwa Tuhan tidak bisa berkarya lewat orang yang penuh kesombongan. “Kerendahan hati adalah dasar dari semua kasih,” katanya. Pelayanan kita kepada sesama tidak akan berbuah jika kita masih merasa paling tahu dan paling hebat.
* Penyerahan pada Penyelenggaraan Ilahi:
St. Luisa de Marillac, meskipun seorang wanita yang sangat cerdas, memilih meletakkan seluruh logikanya di bawah kaki salib. Ketika kita terlalu “pintar” mengandalkan strategi manusia, kita sedang membatasi mukjizat Tuhan.
* Belajar dari “Orang Kecil”:
Vinsensius dan Luisa melihat orang miskin dan sederhana sebagai guru kita. Karena mereka tidak punya sandaran duniawi, hati mereka kosong dari ego dan penuh ruang untuk Tuhan. Itulah mengapa kata-kata mereka sering kali lebih penuh hikmat.
Tuhan tidak bisa mengisi cangkir yang sudah penuh. Rahasia kedamaian sejati hanya bisa ditangkap oleh mereka yang mau mengosongkan egonya seperti anak kecil di hadapan Bapa.
Sahabat Vinsensian, yuk ambil jeda sejenak hari ini untuk memeriksa batin: “Apakah saat ini aku sedang membawa hati yang penuh kesombongan seperti asisten muda Edison, atau hati yang rendah hati dan rindu belajar seperti para teladan Vinsensian?”
Selamat menjalani hari Rabu. Mari turunkan ego kita sedikit saja hari ini, agar rahmat Tuhan bisa bekerja dengan leluasa. Tuhan memberkati!