
Menjadi Tanda Kasih Allah
Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Yohanes 16:12-15
“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” (Yoh 16:12-13). Ungkapan Yesus terdengar begitu intim dan mendalam. Rasanya Ia mau mengatakan dan memberi sebuah jaminan kepada yang dikasihi-Nya, “sabar dulu ya, nanti juga ada saat-Nya kok.. Dia pasti akan datang.” Menunggu bukanlah hal yang mudah, terutama di dunia yang bergerak begitu cepat. Kita selalu didorong untuk bergegas, mengejar, dan tidak membuang-buang waktu. Tetapi Tuhan mengundang kita ke dalam sesuatu yang berbeda. Dia meminta kita untuk menunggu akan hadirnya Roh Kebenaran yang Ia janjikan. Ia mengajak kita untuk bersabar, setia dalam penantian yang bukan hanya sekedar menunggu datangnya Roh Kudus secara pasif, tetapi menunggu dengan keberanian, dengan pengharapan, dan dengan hati yang tertambat di dalam Dia, karena Ia begitu mengasihi kita.
Kasih Allah yang tak terpisahkan dari yang dikasihi-Nya, manusia, menjadi gambaran pula akan relasi kesatuan triniter. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna dan tak terbatas. Kasih inilah yang membuahkan Roh Kudus. Di Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, Yesus ingin menegaskan kasih-Nya kepada kita sekali lagi setelah tanda cinta-Nya yang begitu sempurna di kayu salib, di Kalvari, dengan memberikan Dia yang tak pernah terpisahkan dari-Nya, yaitu Roh-Nya yang kudus, Roh Kebenaran. Roh Kudus inilah yang meneruskan serta menerangkan lebih mendalam apa yang sudah Putera Allah berikan karena cinta-Nya kepada manusia dan ketaatan-Nya kepada Bapa.
Allah Tritunggal itu adalah kasih yang Agung. Kasih yang tidak hanya sebatas pengetahuan, pemahaman atau quotes-quotes yang membuat hati kita nyaman, tetapi kasih yang diimani dan dirayakan dengan penuh khidmat, sukacita dan kemerdekaan. Karena Kasih-Nya tak mampu kita jangkau dan kita selami dengan akal budi kita yang terbatas. Misteri Tritunggal Mahakudus yang kita rayakan hari ini, tidak hanya sekedar perayaan akan iman, tetapi juga ajakan untuk mewartakan kasih Allah Tritunggal yang otentik, universal, dan tak terbatas kepada siapapun pribadi yang dihadirkan dalam peziarahan kita, kepada apapun situasi yang disajikan dalam setiap fase kehidupan kita. Karena kesatuan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus adalah pencinta, yang dicinta dan sumber cinta. Pertanyaannya, sudah siapkah kita? Beranikah kita menjadi tanda dan pembawa cinta kasih kepada sesama?Atau kita masih terjebak dalam perayaan iman yang nyaman? Selamat merenungkan, Tuhan mengasihimu.