
Kasih yang sempurna
HARI BIASA PEKAN I PRAPASKAH
Matius 5: 43-48
Injil Matius 5:43-48 mengajarkan kita tentang kasih yang sempurna. Apa makna kasih yang sempurna dalam hidup kita? Sebagai gambaran, bayangkan ada seseorang yang meminta kita untuk menjahitkan sebuah jubah dalam waktu tiga hari. Kita pun menyepakati waktu itu dengan tekad dan disiplin. Namun, tak sampai tiga hari, jubah itu sudah selesai, lebih cepat dari yang diharapkan. Apa yang dikatakan orang itu? “Wow, ini luar biasa, hasilnya memuaskan!” Inilah kasih yang sempurna—melakukan lebih dari yang diminta atau yang diharapkan.
Kasih yang sempurna adalah kasih yang melebihi batasan biasa. Tuhan mengajarkan kita bahwa mengasihi bukan hanya kepada teman atau tetangga yang baik, itu sudah biasa. Tetapi kasih yang sempurna adalah ketika kita memberikan lebih dari apa yang diharapkan dan hasilnya menjadi yang terbaik. Kasih yang sempurna bukan hanya untuk sahabat atau orang yang kita kenal, melainkan untuk siapa saja, bahkan untuk musuh kita. Mengasihi musuh dan mendoakan mereka adalah inti dari kasih yang sempurna.
Vinsensius sering menegaskan bahwa kita sepenuhnya adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, kita harus menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya, menghabiskan hidup kita untuk orang lain, bahkan memberi apa yang kita miliki, seperti ketika kita disuruh untuk memberikan jubah kita kepada orang yang meminta bajumu (Mat 5:40). Kasih yang sempurna adalah kasih yang mengampuni, kasih yang membawa kita pada kedewasaan iman. Kasih yang sempurna adalah kasih yang tidak membedakan siapa pun, melainkan melampaui batasan-batasan biasa.
Dengan memberi lebih dari yang diminta, kita membawa kesembuhan dan damai yang sejati. Kasih yang sempurna tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang melampaui harapan. Dengan mengasihi musuh kita, kita menunjukkan bahwa kasih kita adalah cerminan dari kasih Allah yang tak terbatas. Marilah kita hidup dengan prinsip ini: mengasihi seperti Allah mengasihi kita, tanpa batas dan tanpa syarat.