Kasih yang Tetap Teguh dalam Badai

IMG_1762

Kasih yang Tetap Teguh dalam Badai

Peringatan Wajib St. Perawan Maria Berdukacita
Yohanes 3:13-17

Salib adalah tempat kasih sejati diuji dan dinyatakan. Di kaki salib, kita melihat Maria berdiri-simbol kesetiaan seorang ibu dalam duka dan penderitaan. Di situ juga ada Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang menerima tanggung jawab untuk menjaga Maria. Dalam detik-detik terakhir-Nya, Yesus membentuk komunitas kasih yang baru, berdasarkan kepedulian, tanggung jawab, dan pengorbanan.


Semangat ini sangat selaras dengan semangat hidup Santo Vincentius a Paulo, pelindung karya karitatif Gereja. Vinsensius percaya bahwa kasih sejati kepada Allah harus dinyatakan dalam tindakan nyata kepada sesama, terutama mereka yang menderita: orang miskin, sakit, terpinggirkan, dan tidak berdaya.


Yesus yang tergantung di salib tetap mengasihi dan memperhatikan yang lemah-Maria yang akan ditinggalkan. Demikian pula, Santo Vincentius mengajarkan bahwa pelayanan kasih tidak boleh berhenti hanya pada kata-kata atau rasa iba, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang membawa harapan, martabat, dan pemulihan.


Kasih tidak mengenal waktu atau keadaan
. Bahkan dalam penderitaan, Yesus tetap mengasihi. Kita pun dipanggil untuk terus mengasihi meski dalam situasi sulit-dalam keluarga, pekerjaan, atau pelayanan.


Kasih sejati menuntut tanggung jawab
. Yohanes menerima Maria bukan hanya sebagai tugas, tetapi sebagai bagian dari perutusan kasih. Begitu pula kita: kasih kepada sesama bukan sekadar belas kasihan, tapi komitmen jangka panjang.


Kasih sejati melahirkan komunitas yang peduli
. Seperti Yesus membentuk keluarga baru di bawah salib, Santo Vincentius membangun jaringan cinta kasih yang melayani. Kita pun dipanggil membangun komunitas yang bukan hanya “beragama,” tetapi memiliki dan memancarkan kasih didalamnya.

Category: