Tuhan Bukan Komoditas

Shiny yellow coins stack on old wooden table generated by artificial intelligence

TUHAN BUKAN KOMODITAS

Hari Rabu dalam Pekan Suci
Matius 26:14-25

“… celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!” 

 

Yudas Iskariot pergi, menjual Tuhannya dan menukarnya dengan tiga puluh keping perak. Dia tidak peduli dan sengaja melupakan semua pengajaran Tuhan padanya tentang kasih dan kesetiaan. Ukuran keberhasilan bagi Yudas masih ukuran dunia, sehingga nilai tiga puluh keping perak dilihatnya lebih berharga ketimbang sebuah nyawa, bahkan nyawa Tuhannya. Demi tiga puluh keping perak membuat Yudas menjadi lihai untuk mencari cara dan menemukan kesempatan agar dapat menyerahkan Tuhannya.


Kita pun seringkali berbuat seperti Yudas, menjual Tuhan demi popularitas, jabatan, kekayaan. Kita menjadikan Tuhan hanya seperti komoditas yang diperjualbelikan, diukur keberhargaannya dari untung dan rugi, dan yang menjadi patokan dasarnya adalah ego kita sendiri. Namun menjual Tuhan juga bukan sebatas mengganti iman. Pengkhianatan sangat erat kaitannya dengan kesetiaan.


Ketika kita melanggar kaul-kaul kita atau janji perkawinan kita, ketika kita melawan hati nurani kita dalam menyuarakan dan melakukan kebenaran, saat itulah kita pun telah menjual Tuhan karena melawan cintaNya demi kesenangan diri sendiri.


St. Vinsensius mengalami masa gelap di awal panggilannya. Motivasi awalnya menjadi Imam adalah agar bisa memperoleh kekayaan bagi dirinya dan keluarganya. Namun Allah menolongnya dengan menunjukkan kehendakNya melalui peristiwa di Folleville dan Chatillon les Dombes. Vinsensius terbuka pada rahmat Allah dan mulai menata hidupnya sehingga menjadi perpanjangan berkat Allah bagi orang miskin dan terpinggirkan. Seperti St. Vinsensius, kita pun pernah mengalami masa gelap dan menjadi Yudas Iskariot yang lain, tapi Allah senantiasa punya cara untuk menolong kita. Marilah kita membuka hati untuk bisa melihat dan menerima rahmat belas kasih Allah dalam hidup kita.

Category: