Ketaatan yang Sejati dalam Perbuatan

Screenshot

Ketaatan yang Sejati
dalam Perbuatan

Hari Selasa Pekan Adven III
  Matius 21:28-32

Dalam Injil hari ini, Yesus mengisahkan perumpamaan tentang seorang ayah yang meminta kedua anaknya untuk bekerja di kebun anggur. Anak kedua menolak untuk pergi tetapi kemudian menyesal dan pergi bekerja. Anak sulung setuju untuk pergi, tetapi tidak melakukannya. Yesus bertanya, siapa di antara keduanya yang melakukan kehendak ayahnya? Tentu saja, anak yang kedua, meskipun awalnya menolak. Yesus kemudian mengaitkan perumpamaan ini dengan orang-orang berdosa yang bertobat, serta para pemimpin agama yang tidak mau bertobat meskipun mereka tahu kebenaran. Yesus menegaskan bahwa orang-orang yang bertobat, meskipun hidupnya penuh dengan dosa, namun berkenan di hadapan Allah daripada mereka yang hanya berbicara tetapi tidak bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

 

Lebih jauh, perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa ketaatan kepada Allah tidak hanya dinilai dari kata-kata atau niat baik, tetapi dari tindakan nyata yang kita lakukan. St. Vinsensius de Paul menekankan bahwa tindakan pelayanan yang nyata lebih penting daripada sekadar janji atau niat yang tidak diikuti dengan perbuatan. Seperti yang dikatakan St. Vinsensius, “Kasih adalah jiwa semua keutamaan, dan kerendahan hatilah yang menarik dan menjaga keutamaan-keutamaan itu” (DBSV V, 1). Ketaatan sejati kepada Tuhan bukan hanya menunjukkan diri dalam perkataan, tetapi juga melalui perbuatan, terutama dalam melayani sesama. Tidak jarang kita melihat diri kita seperti anak sulung dalam perumpamaan, berjanji untuk mengikuti Tuhan tetapi sering kali terhenti pada niat tanpa diwujudkan dalam tindakan nyata.

 

Karena itu, untuk menghidupi ajaran Yesus tentang ketaatan sejati, kita harus mengubah niat baik kita menjadi tindakan yang nyata. Seperti St. Vinsensius yang mengajarkan tentang pelayanan kepada orang miskin, kita dipanggil untuk tidak hanya berjanji atau berkata baik, tetapi juga melaksanakan tindakan konkret dalam kasih. Kita harus melayani tanpa mengharapkan pujian, hanya demi kasih kepada Allah dan sesama. Salah satu cara praktisnya adalah dengan memberikan perhatian dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pekerjaan kita. Yesus mengajarkan bahwa tindakan kita berbicara lebih keras daripada kata-kata kita.

Dengan mengikuti teladan St. Vinsensius yang hidup dalam pelayanan, kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menemukan kebahagiaan sejati dalam ketaatan yang dihidupi melalui perbuatan.

Category: