
Jangan Buru–Buru Kasih “Bintang 1” ke Hidup Orang Lain
Hari Jumat Pekan Biasa XV
Matius 12:1-8
Halo Sahabat Vinsensian! Selamat hari Jumat.
Ada cerita tentang Rio, seorang mahasiswa yang disiplinnya minta ampun. Suatu hari, dia pesan ojek online untuk ke kampus karena ada ujian penting. Di aplikasi tertulis driver bakal sampai dalam 5 menit. Tapi setelah ditunggu 15 menit, si driver tidak muncul-muncul. Rio sudah emosi banget.
Begitu si driver sampai, Rio langsung naik dengan wajah ditekuk. Sepanjang jalan dia sudah niat bakal memberikan bintang 1 plus ulasan negatif. Secara “aturan” konsumen, si driver jelas salah karena tidak tepat waktu. Pas sampai kampus, Rio turun dan langsung ngedumel, “Pak, lain kali kerja yang profesional dong. Saya telat nih!”
Si driver yang mukanya pucat langsung buka helm dan membungkuk, “Maaf banget, Mas. Tadi di persimpangan depan ada ibu-ibu kecelakaan, kepalanya berdarah. Saya tidak tega meninggalkan, jadi saya pinggirkan dulu dan cari taksi untuk bawa ke RS. Makanya saya telat. Saya pasrah kalau Mas mau kasih bintang 1, itu memang salah saya.”
Mendengar itu, Rio langsung terdiam. Tombol bintang 1 di HP-nya tiba-tiba terasa berat banget untuk ditekan. Rio sadar, Si Driver melanggar “aturan sistem” demi mematuhi “hukum kemanusiaan” yang jauh lebih tinggi.
Kisah di atas sangat dekat dengan sindiran Yesus ke orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Pas murid-murid Yesus kelaparan dan memetik gandum di hari Sabat, orang Farisi sibuk mempermasalahkan aturan agama, bukan peduli pada perut mereka yang keroncongan. Yesus langsung pasang badan dan berkata: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
Tuhan kita bukan sosok “bos” kaku yang hobi melototi buku aturan untuk mencari kesalahan kita. Seperti Raja Hizkia dalam Bacaan Pertama yang disembuhkan karena air mata dan kejujuran hatinya, Tuhan adalah Bapa yang peka. Kebenaran tanpa belas kasih itu bisa berubah menjadi kekejaman.
Bagi Santo Vinsensius a Paulo dan Santa Luisa de Marillac, perdebatan antara “aturan” vs “belas kasih” ini adalah kompas utama dari seluruh pelayanan mereka St. Vinsensius punya prinsip rohani yang sangat terkenal, yaitu “Meninggalkan Tuhan demi Tuhan.” Beliau mengajarkan bahwa jika seorang suster sedang berdoa (aturan ibadah), lalu tiba-tiba ada orang miskin yang mengetuk pintu membutuhkan pertolongan, si suster harus segera meninggalkan doanya untuk menolong orang itu. Kita meninggalkan Tuhan dalam doa untuk menemukan Tuhan dalam diri sesama yang menderita. Sama seperti driver ojol yang melanggar sistem demi menyelamatkan nyawa manusia.
Di sisi lain, St. Luisa de Marillac selalu mengingatkan agar kita tidak tergesa-gesa menghakimi situasi orang lain dari luarnya saja. Luisa meminta kita memiliki kelembutan hati agar bisa menahan diri dari memberikan “bintang 1” atau penilaian buruk kepada sesama, melainkan memberikan kelonggaran hati untuk memahami beban sulit yang mungkin sedang mereka pikul.
Kesalehan kita di tempat ibadah atau di media sosial tidak akan ada artinya kalau kita minim empati di dunia nyata. Tuhan tidak cuma mencari rutinitas “persembahan” kita, tetapi seberapa besar “belas kasih” yang kita bagikan.
Sahabat Vinsensian, sebelum menutup minggu ini, yuk ambil jeda sejenak untuk memeriksa batin kita:
“Apakah hari ini aku masih hobi mencari-cari kesalahan orang lain seperti orang Farisi, atau aku mau belajar seperti Rio yang menahan jarinya untuk tidak mudah memberi ‘bintang 1’ kepada hidup sesama?”
Happy Friday, guys! Mari miliki hati yang lebih longgar dan penuh empati. Tetap sehat, tetap jadi berkat, dan selalu berjalan dalam Penyelenggaraan Ilahi. Tuhan memberkati!