
Melayani Berarti Memuliakan Allah
Hari Minggu Paskah VII
Hari Komunikasi Sedunia
Yohanes 17:1-11a
Injil Yohanes 17:1–11a menampilkan Yesus yang berdoa kepada Bapa sebelum sengsara-Nya. Ia berbicara tentang kemuliaan, bukan sebagai pujian manusia, tetapi sebagai kesetiaan pada perutusan. Yesus memuliakan Bapa dengan menyelesaikan karya yang dipercayakan kepada-Nya. Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengaitkan kemuliaan dengan keberhasilan, jabatan, atau pengakuan. Namun Injil ini mengajak kita melihat bahwa Allah dimuliakan ketika kita setia melakukan tugas kecil yang dipercayakan kepada kita: merawat keluarga, bekerja dengan jujur, mendengarkan sesama, dan tidak lari dari tanggung jawab. Kesetiaan sederhana itulah doa yang hidup di hadapan Allah.
Yesus juga berkata bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah dan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Mengenal di sini bukan sekadar tahu, tetapi menjalin relasi yang nyata. Dalam spiritualitas Vinsensian, relasi dengan Allah selalu terhubung dengan relasi dengan orang miskin. Ketika kita hadir bagi mereka yang lemah, sakit, tersingkir, dan terlupakan, kita sedang mengenal Allah dengan cara yang konkret. Dalam keseharian, ini bisa berarti berbagi waktu, tenaga, perhatian, dan hati, meski tanpa sorotan. Pelayanan seperti ini sering melelahkan, namun justru di sanalah iman diuji dan dimurnikan.
Vincent de Paul mengingatkan bahwa “melayani orang miskin adalah melayani Yesus Kristus sendiri.” Bagi Sahabat Vinsensian di seluruh Indonesia, Injil ini meneguhkan panggilan kita: memuliakan Allah bukan terutama lewat kata-kata indah, melainkan lewat pelayanan yang setia dan penuh kasih. Saat kita melayani dengan rendah hati, Allah dimuliakan, sesama diteguhkan, dan hidup kita sendiri dipenuhi makna yang sejati, membangun harapan, kesabaran, solidaritas, dan sukacita Injil dalam realitas hidup harian bersama keluarga, komunitas, dan masyarakat. Di situlah kasih Allah menjadi nyata dan Kerajaan-Nya bertumbuh di antara kita bersama.