
Mengikuti Panggilan dengan Iman
Hari Biasa Khusus Adven
Matius 1:18-24
Dalam Injil Matius hari ini, kita mendengar kisah tentang Yusuf, tunangan Maria, yang awalnya merasa bingung dan khawatir ketika mengetahui bahwa Maria, telah mengandung sebelum pernikahan mereka. Yusuf, seorang yang adil, memutuskan untuk secara diam-diam mengakhiri pertunangan mereka agar Maria tidak mendapat malu. Namun, dalam mimpi, malaikat Tuhan memberitahunya bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus, dan dia diminta untuk menerima Maria sebagai istrinya. Yusuf mendengarkan perintah malaikat dan dengan penuh iman menerima panggilan itu, meskipun itu mengubah seluruh rencananya. Dengan demikian, Yusuf menunjukkan ketaatan kepada kehendak Tuhan dan berperan penting dalam rencana keselamatan Allah.
Lebih jauh, sikap Yusuf yang menerima panggilan Tuhan dengan penuh iman dan tanpa keraguan menunjukkan contoh yang sangat relevan bagi kita. Kita mungkin seringkali dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak terduga, dan seperti Yusuf, kita juga bisa merasa bingung atau takut akan konsekuensinya. Namun, seperti yang diajarkan oleh St. Vinsensius de Paul, kita harus belajar untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan mengikuti-Nya dengan kerendahan hati. St. Vinsensius berkata, “Tuhan sering menangguhkan suatu niat yang suci bagi mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya. Ini dilakukan-Nya agar mereka akhirnya memperoleh hasil yang baik melalui pekerjaan yang tekun, melalui kesabaran dan doa” (SV III, 627). Yusuf mengajarkan kita bahwa terkadang Tuhan memanggil kita untuk membuat keputusan besar dengan penuh iman, meskipun kita tidak tahu sepenuhnya apa yang akan terjadi di masa depan.
Karena itu, untuk menghidupi pesan ini, kita diajak untuk mengikuti teladan Yusuf dalam mendengarkan panggilan Tuhan dan mengambil langkah-langkah dengan iman. Setiap hari, kita mungkin akan menghadapi situasi yang menuntut keberanian untuk bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, meskipun itu bertentangan dengan rencana atau kenyamanan kita sendiri. Seperti St. Vinsensius yang menekankan pentingnya melayani dengan kasih tanpa pamrih, kita juga dipanggil untuk melayani dengan sepenuh hati, bahkan ketika jalan yang Tuhan pilihkan untuk kita tidak mudah dan penuh tantangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melatih diri untuk lebih peka terhadap panggilan Tuhan dalam diri kita dan orang lain, terutama dalam melayani mereka yang membutuhkan. Seperti Yusuf yang mendengarkan dan mengikuti petunjuk Tuhan, kita juga harus terbuka terhadap rencana-Nya dan siap untuk bertindak dengan iman, mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah dan keputusan kita.