Askese – Jalan Cinta Tuhan

A large green rice field with green rice plants in rows in Valencia sunset

Askese – Jalan Cinta Tuhan

Pekan Biasa XI
Matius 6:1-6, 16-18

Mana yang lebih penting, mengejar riuh tepuk tangan dunia atau terus berusaha mendengarkan suara Tuhan? Di dunia yang penuh dengan tren pencarian validasi dari orang lain dan pergeseran nila-nilai kehidupan, pernahkah kita bertanya “mengapa aku tidak bisa mendengarkan suara Tuhan?” Mungkin Ia melakukannya, tapi sayangnya kita tidak saling terhubung. Suara Tuhan selalu ada, tapi dunia ini begitu bising dan kita telah berhenti mendengarkan-Nya. Dia berbicara melalui pikiran kita yang tenang, kedamaian di tengah kekacauan, sabda-sabda dalam Kitab Suci, dan kebaikan dari orang lain. Untuk dapat mendengarkan Tuhan lebih baik, kita tidak perlu berteriak lebih keras, kita hanya perlu mengurangi kebisingan hati kita, diam dan perhatikan. Kita mungkin sudah mendengar-Nya sebelumnya, Dia telah berbicara sepanjang waktu. Tapi kita tidak menyadarinya, karena kita terlalu sibuk mencari validasi dari orang lain. Tuhan tidak butuh itu, Dia hanya mau kita hadir dengan segala adanya kita dalam kerendahan hati.


Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk menapaki jalan cinta Tuhan melalui askese – berpuasa, berbagi, dan berdoa. Jalan cinta Tuhan ini akan menghantar kita pada relasi yang lebih otentik dan mendalam dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan. Tentu jalan ini tidaklah mudah, walaupun askese dikatakan sebagai jalan cinta Tuhan. Karena dibutuhkan kerendahan hati sebagai penggerak utama langkah kita untuk menapaki jalan ini. Tanpa kerendahan hati, maka puasa kita, berbagi kita, dan doa-doa kita hanya berakhir menjadi suntingan-postingan yang
aesthetic dan mengundang banyak jempol di setiap halaman platform sosial media kita. Maka Yesus menegaskan sampai tiga kali bahwa tidak perlu orang lain tahu kalau kita sedang berpuasa, berbagi, ataupun berdoa. Cukuplah hanya hatimu yang tahu kalau kamu sedang mengupayakannya, sebab Bapa di Surga mengetahuinya. Ia menatap kita dan berkata, “kamu melakukan dengan sangat baik. Aku bangga padamu”.  Mungkin dalam perjalanan askese kita akan menangis, atau mungkin juga kita akan tersenyum dengan lega. Terkadang kita terlalu keras pada diri sendiri, sehingga kita masih mencari pengakuan dan tepuk tangan yang riuh dari banyak orang agar dipandang baik dan bernilai. Padahal Tuhan tidak menginginkan itu semua, Dia tidak menuntut kita untuk selalu sempurna. Dia hanya ingin kita setia berjalan dalam jalan cinta Tuhan dan menjadikan kita tangan-Nya untuk rela menolong, mulut untuk bersyukur dan tubuh untuk berpuasa. Ingat, bahwa Dia melihat usaha kita, bukan hanya kesalahan kita. Selamat menyetiai askese – jalan cinta Tuhan dalam semangat kerendahan hati.


“Kerendahan hati adalah dasar dari semua keutamaan,

dan senjata yang ampuh untuk melawan iblis.”

-St. Vinsensius-

Category: