
Siap diutus Tuhan dalam Kesederhanaan dan Ketaatan
Pesta St. Lukas, Penginjil
Lukas 10:1-9
Dalam Injil hari ini, Yesus mengutus tujuh puluh murid-Nya berdua-dua ke setiap kota dan tempat yang hendak Ia kunjungi. Ia menekankan bahwa tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Para murid diutus dengan kesederhanaan: tidak membawa pundi-pundi, bekal, ataupun kasut, melainkan bergantung penuh pada penyelenggaraan Allah. Amanat Yesus ini menegaskan bahwa perutusan tidak berpusat pada kenyamanan pribadi, tetapi pada kesediaan hati untuk menghadirkan Kerajaan Allah dimanapun mereka diutus. Kehadiran mereka bukan membawa kepentingan pribadi, melainkan damai dan kasih Kristus.
Kisah ini mengajak kita untuk merenungkan: Apakah aku selama ini siap diutus Tuhan dalam kesederhanaan dan ketaatan? Sering kali kita merasa tidak layak, tidak siap, atau bahkan takut kehilangan kenyamanan ketika dipanggil untuk melayani. Namun Yesus justru menghendaki supaya kita meninggalkan kelekatan pada hal-hal duniawi, agar hati kita bebas untuk mengutamakan misi-Nya. Perutusan bukan pertama-tama soal kata-kata indah, melainkan soal hadir sebagai saksi damai dan cinta kasih. Kehadiran kita yang sederhana dapat menjadi wujud nyata Injil yang hidup.
Hari ini, kita pun dipanggil menjadi pekerja di ladang Tuhan, entah di keluarga, kampus, tempat kerja, maupun komunitas. Tugas kita adalah membawa damai, menghadirkan sukacita, dan menabur kasih dimanapun kita berada. Kita mungkin merasa kecil, tetapi Allah bekerja melalui keterbatasan kita. Yang penting bukan seberapa besar hasil yang kita peroleh, melainkan kesetiaan untuk menjadi utusan kasih Kristus. Mari membuka hati agar kita berani melangkah sebagai saksi Injil, membawa terang Tuhan ke dalam dunia yang haus akan harapan.