Gandum yang Menumbuhkan Harapan

pexels-siglinde-luise-288922879-13178288

Gandum yang
Menumbuhkan Harapan

Hari Minggu Biasa XVI
Matius 13:24-43

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” (Mat. 13:30)


Sering kali kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kelemahan diri sendiri. Kita ingin orang lain segera berubah, sementara kita lupa bahwa kita pun setiap hari hidup karena belas kasih Allah.

 

Melalui perumpamaan tentang gandum dan lalang, Yesus mengajarkan kita untuk memiliki kerendahan hati. Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia tidak tergesa-gesa menghakimi, karena ia sadar bahwa setiap orang sedang berjuang dan setiap orang masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertumbuh.

 

Santo Vinsensius a Paulo menunjukkan bahwa kerendahan hati bukan sekadar sikap, tetapi cara hidup. Di tengah kemiskinan, penderitaan, dan ketidakadilan, ia tidak menyalahkan atau merendahkan mereka yang jatuh. Dengan hati yang rendah, ia memilih melayani, mendengarkan, dan menghadirkan kasih Allah bagi siapapun yang membutuhkan.

 

Kerendahan hati membuat seseorang tidak sibuk mencari siapa yang salah, tetapi bertanya, “Apa yang dapat kulakukan agar kasih Tuhan semakin nyata hari ini?”

 

Hari ini kita diajak untuk merefleksikan bahwa Tuhan mengajak kita menjadi gandum yang menumbuhkan harapan. Mulailah dari hal-hal sederhana: mengalah tanpa merasa kalah, mengampuni tanpa menunggu diminta, melayani tanpa mencari pujian, dan menghargai setiap orang tanpa memandang kekurangannya.

 

Sebab hati yang dipenuhi dengan kerendahan akan lebih mudah dipakai Allah untuk menjadi saluran kasih-Nya.

 

“Kerendahan hati membuat kita berhenti menghakimi, sementara kasih membuat kita mulai melayani. Jadilah gandum yang bertumbuh dalam kasih, karena melalui kasih, Allah menghadirkan harapan bagi dunia.”

Category: