Terang Mengusik Kegelapan

pexels-lissaa-spiridonova-198852194-11787170

Terang Mengusik Kegelapan

Pekan Biasa XIII
Matius 8:28-34

Injil hari ini membawa kita ke wilayah Gadara, tempat yang dianggap gelap dan liar. Di sanalah Yesus berjumpa dengan dua orang yang kerasukan setan, mereka hidup terasing di pekuburan, tempat kematian dan kesunyian, jauh dari masyarakat, dan kehilangan kemanusiaannya. Mereka menyakiti diri sendiri, bersuara keras, dan menebarkan ketakutan. Gambaran ini bukan sekadar kondisi fisik atau mental, tetapi juga melambangkan keadaan jiwa manusia yang dikuasai oleh dosa dan keputusasaan: terasing, hampa, dan kehilangan arah.


Namun Yesus datang. Ia tidak takut menghadapi kekuatan jahat yang telah mengikat dua orang ini. Dengan sabda yang penuh kuasa, Ia berkata, “Pergilah!” Dan seketika, kuasa kegelapan itu dikalahkan. Para penderita itu dibebaskan, dipulihkan martabatnya, dikembalikan kepada kehidupan yang sejati.


Akan tetapi, yang mengejutkan bukanlah hanya mukjizat itu, melainkan reaksi orang-orang di wilayah Gadara. Mereka tidak bersukacita, tidak memuji Allah, tidak menari dalam kekaguman. Sebaliknya, mereka meminta Yesus pergi. Mereka lebih memilih kehilangan hadirat ilahi daripada kehilangan kenyamanan duniawi mereka, bahkan jika itu berarti hidup berdampingan dengan kuasa kegelapan.


Mengapa demikian? Karena kehadiran Yesus bukan hanya membawa keselamatan, tetapi juga mengguncang zona nyaman. Hadir-Nya menuntut perubahan. Ia membongkar kompromi kita dengan dosa, mengusik ketenangan palsu yang dibangun di atas kebiasaan buruk, kepentingan diri, atau sistem yang tidak adil. Seperti orang Gadara, kita pun bisa takut saat terang datang dan mengungkapkan sisi-sisi gelap dalam hati kita.


Inilah saat kita merenung: bagaimana dengan aku? Apakah aku sungguh ingin Yesus hadir dalam hidupku? Ataukah aku, tanpa sadar, lebih memilih Ia menjauh karena kehadiran-Nya akan menuntutku meninggalkan dosa yang diam-diam kusukai?


Yesus tidak memaksa. Ia menghormati pilihan manusia. Tapi Ia tetap datang, dengan kasih yang tak bersyarat, menawarkan pembebasan dari semua kuasa yang memperbudak kita. Kita dipanggil untuk memilih: membuka hati bagi terang-Nya atau tetap tinggal dalam kegelapan yang nyaman namun mematikan.

Category: