Healing Sampai ke Akar

pexels-happyfemme-37828592

HEALING SAMPAI KE AKAR

Hari Kamis Pekan Biasa XIII
Matius 9:1-8

​Istilah healing sudah tidak asing bagi kita. Capek kerja? Healing. Putus cinta? Healing. Stres di kantor atau tempat kerja? Healing. Stres di dalam keluarga karena banyak permintaan anak-anak? Healing. Kita sering mengira bahwa esensi healing adalah menyelesaikan apa yang kelihatan di permukaan, menyegarkan pikiran, jalan-jalan, atau menyelesaikan masalah fisik. 

 

​Lewat kisah penyembuhan orang lumpuh di Kapernaum ini (Mat 9:1-8), Yesus mau mengajarkan kita tentang apa itu healing yang sesungguhnya. 

 

Perhatikan aksi teman-teman si lumpuh itu. Pria lumpuh ini tidak bisa berjalan sendiri, tetapi dia punya sahabat-sahabat yang luar biasa. Mereka tidak cuma menghibur, tapi mereka beraksi gotong-royong membawa temannya menerobos kerumunan demi ketemu Yesus.

Pertanyaan buat kita. Seperti apa circle atau pergaulan kita hari ini? Apakah teman-teman kita adalah orang yang cuma ada saat senang-senang (toxic circle), atau mereka adalah orang-orang yang ketika kita sedang “lumpuh” (down, jatuh dalam dosa, depresi), mereka mau merangkul dan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan? Jadilah sahabat yang membawa dampak kekal bagi orang lain.

 

Ketika orang lumpuh itu akhirnya sampai di depan Yesus, semua orang pasti mengharapkan Yesus akan langsung berkata, “Bangkit dan berjalanlah!”. Tapi kalimat pertama yang keluar dari mulut Yesus justru: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” (Ayat 2).

Bagi Yesus, kelumpuhan fisik orang itu adalah masalah nomor dua. Masalah nomor satunya adalah kelumpuhan jiwanya akibat dosa. Yesus tahu, percuma kalau fisiknya bisa berjalan, tapi jiwanya menuju kebinasaan. Sering kali kita datang kepada Tuhan hanya minta “kesembuhan fisik” atau jalan keluar dari masalah luar kita (keluarga kita aman, sehat sejahtera, panjang umur, karier lancar, keuangan lancar). Tapi Tuhan Yesus mau melakukan healing sampai ke akar-akarnya. Dia mau membereskan hati kita dulu: membereskan kepahitan, rasa bersalah, ego, dan dosa-dosa tersembunyi kita. Ketika hatimu diampuni dan dipulihkan, di situlah kemerdekaan sejati terjadi.

Category: