Bersama Allah ada Damai

Zen stones balanced on the beach with copy space. Sunrise light. Meditation and relaxation.

Bersama Allah ada Damai

Hari Biasa Pekan Paskah VII
Yohanes 17:29-33

Seorang ibu merasa dalam rumah tangganya sudah tidak ada lagi damai dengan suaminya. Dua belas tahun menjalani hidup berkeluarga dengan 4 orang anak dikaruniai Tuhan. Sejak kelahiran anak kedua rumah tangga mereka hampir retak, namun si ibu tetap bertahan sampai titik penghabisan tenaganya. Awal mula persoalan dalam rumah tangga mereka adalah perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. Tentu peristiwa ini sangat melukai hati seorang ibu yang sudah diduakan suaminya. Namun sang ibu tetap bertahan, karena si Ibu selalu percaya dengan berdoa terus menerus Allah akan menguatkan dia. Dan pada akhirnya setelah anak mereka besar dan kuliah, si Bapak mulai sadar dan kembali bertobat. Diyakini bahwa itu adalah hasil kesetiaan si Ibu dalam doanya dan kesatuannya kepada sang Bapanya yang mendatangkan damai untuk menyelamatkan perkawinan yang selama ini telah dipertahankan. 


Inilah tandanya semua orang membutuhkan rasa damai. Yesus dalam sabdaNya mengatakan “Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya kamu memperoleh damai sejahtera dalam Aku. Yesus sudah mengajarkan kepada kita bagaimana agar hidup kita tetap damai. Hidup kita damai, tenang dan penuh sukacita bila bersatu dalam Allah. Untuk memperoleh damai yang dimaksud, perlu setia meskipun harus melalui tantangan berat dalam hidup. Karena dalam dunia ini ada penderitaan yang harus dilalui untuk memperoleh damai, yang penting hati kita kuat. Yesus berkata “Kuatkanlah hatimu”. Yesus mengingatkan kita kembali bahwa di dunia ini penuh persoalan hidup, bila kita tidak mengalami kesatuan dengan Tuhan, maka penderitaan itu akan menimbulkan persoalan baru, tetapi kalau kita tetap setia kepadaNya, maka kita pasti memperoleh hidup yang damai seyogyanya yang diharapkan semua orang dalam hidupnya.

Category: