
Setiap pohon dikenal dari buahnya
HARI MINGGU BIASA
Lukas 6:39-45
Dalam banyak kesempatan bersama para murid-Nya, Yesus mengajar dengan menyampaikan perumpamaan-perumpamaan. Yesus tahu, bahwa tidak semua murid-Nya mudah untuk menangkap maksud dan pesan dari apa yang hendak Dia sampaikan. Melalui perumpamaan-perumpamaan, Yesus berharap para murid akhirnya dapat mengerti dan paham akan pengajaran-Nya. Seperti yang kita baca dalam perikop ini, ada perumpamaan ‘dapatkah orang buta menuntun orang buta?; Serpihan kayu yang dibandingkan dengan balok; Semak duri dan pohon ara, dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.
Bila kita refleksikan, ayat-ayat dalam perikop Injil ini saling terhubung dan bermakna pada satu pesan yang mendalam. Inti pengajaran Yesus yang menyampaikan lebih dulu melalui perumpamaan di atas adalah hendaknya para murid memiliki pengenalan yang lebih baik terhadap diri sendiri dan orang lain, sehingga akan lebih berhati-hati untuk tidak mudah melihat kekurangan dan keterbatasan orang lain dan lebih terbuka untuk melihat hal-hal positif dan kebaikan dari sesama.
Dalam hidup sehari-hari, kita selalu mendapat kesempatan belajar untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik melalui bagaimana kata-kata, sikap dan tindakan kita terhadap orang lain.Apa yang disabdakan Yesus dalam Injil ini direfleksikan dan diurai dalam tulisan Santo Vinsensius: “Sifat-sifat kita yang baik maupun yang jelek akan tampak ke luar. Dan terutama kasih, yang dari dirinya sendiri komunikatif, akan menghasilkan kasih juga. Hati yang sungguh-sungguh dipenuhi dan dijiwai oleh keutamaan ini, membuat orang-orang lain merasakan kehangatannya. Segala sesuatu yang ada di dalam diri orang yang memiliki kasih memancarkan dan menyebarkan kasih.” Kita hendak menjadi pohon yang baik dan menghasilkan buah yang baik atau yang sebaliknya?