
Cinta itu menggerakkan
Hari Raya Paskah “KEBANGKITAN TUHAN”
Yohanes 20:1-9
Salam Vinsensian! Sahabat REHAVIN yang terkasih selamat Hari Raya Paskah, selamat mensyukuri anugerah IMAN, HARAPAN dan KASIH dari SANG PUTERA ALLAH yang lahir ke dunia, menderita sengsara, wafat, dimakamkan dan bangkit untuk kita.
Mari masuk dalam permenungan dari injil Yohanes yang kita dengarkan hari ini, yang menceritakan tentang situasi makam Yesus, reaksi dan aksi dari Maria Magdalena, Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus ketika melihat situasi makam Yesus yang kosong. Ada kesamaan reaksi dan aksi dari ketiga pribadi ini, mereka bertiga sama-sama terkejut dan panik kemudian menunjukkan aksi yang sama yaitu “berlari-lari”. Maria Magdalena dalam kepanikan dan keterkejutannya menyangka bahwa “Tuhan diambil orang”, Simon Petrus yang masuk ke dalam kubur Yesus, melihat situasi di sana, diam tidak mengatakan apa-apa, sedangkan murid lain yang dikasihi Yesus juga ikut masuk ke dalam kubur setelah Simon Petrus, melihat situasi kubur dan percaya. Perasaan terkejut dan panik adalah sesuatu yang wajar karena mereka tidak tahu bahwa “Yesus harus bangkit”, sedangkan cara mereka merespon situasi tersebut dengan “berlari-lari”, mengungkapkan betapa pentingnya Yesus bagi mereka, tidak menutup kemungkinan mereka juga merasa sangat takut kehilangan Yesus. Merenungkan reaksi dan aksi yang ditunjukkan oleh mereka, sangat mungkin bahwa hal itu dipengaruhi oleh pengalaman mereka akan pribadi Yesus. Kita bisa merasakan bahwa ada cinta yang sangat mendalam dalam diri Maria Magdalena, Simon Petrus, dan murid yang lain, yaitu “cinta kepada Yesus”. Mari melihat lebih dalam, darimana datangnya “cinta kepada Yesus.” Ya, cinta itu datang dari pengalaman dicintai, dengan kata lain bahwa cinta kepada Yesus itu tumbuh pertama-tama karena mereka mengalami dicintai oleh Yesus. Cinta inilah yang menggerakkan mereka “berlari-lari” mencari Yesus.
Sahabat REHAVIN, tentu bukan hanya Maria Magdalena, Simon Petrus dan murid lain yang dikasihi Yesus, yang memiliki pengalaman akan pribadi Yesus, memiliki pengalaman dicintai dan mencintai Yesus. Kita masing-masing pasti memiliki pengalaman akan anugerah cinta ini. Pengalaman yang pasti mempengaruhi cara hidup kita. Semakin kita dekat dan mencintai Yesus maka semakin serupa juga hidup kita dengan hidup Yesus. “Tidak mudah“ tetapi sungguh melegakan dan menyelamatkan ketika kita berada di dalam Dia.
Makam Yesus yang kosong menjadi salah tanda bahwa Yesus mencintai kita dengan cinta yang tidak bersyarat dan tidak terbatas. Maka, marilah kita membiarkan diri kita digerakkan oleh cinta Yesus yang tersalib. Bersama St. Vinsensius, “Mari kita melihat Putera Allah. Hati yang begitu penuh kasih! Betapa cinta yang membara. Oh, Penyelamat kita! Sumber cinta yang direndahkan di hadapan siksaan keji salib! Siapakah yang memiliki cinta seperti Engkau? Saudara-saudaraku, jika kita memiliki sebagian dari cinta itu, akankah kita diam dan menyilangkan tangan kita? Akankah kita membiarkan mati segala yang bisa kita pelihara? Tidak, cinta kasih tidak dapat diam berpangku tangan, melainkan menggerakkan kita untuk menyelamatkan dan menghibur sesama.” (SV XI, 132)
Tuhan memberkati.