Hati-hati, Hatimu

pexels-saturnus99-11579860

Hati-hati, hatimu

Pekan Biasa XI
Matius 6:19-23

Mari kita jujur. Di dalam dunia yang mengidentikkan nilai dengan kekayaan, popularitas dan kesuksesan, sulit untuk tidak membandingkan diri saat kesuksesan ada dimana-mana. Apalagi dunia sosial media yang selalu menyajikan perlombaan standar hidup, flexing kemewahan, fomo, haus akan likes dan validasi dari orang lain. Semakin banyak scroll, semakin hati kita gelisah. Dari mata, turunnya kehati, melihat orang lain sukses; punya mobil baru, mendapatkan promosi pekerjaan, pergi berlibur, bisa membuat kita merasa tereliminasi dari social circle, kemudian membuat kita memaksakan diri untuk bekerja lebih keras hanya untuk bisa diterima dalam social circle kita. Terkadang, kita bahkan mungkin tergoda untuk mengorbankan keyakinan kita demi semuanya itu. Tetapi inilah nilai yang harus kita pegang, bahwa kekayaan, popularitas dan kesuksesan adalah sarana, bukan tujuan, karena semuanya itu dapat membuka pintu-pintu dalam hidup kita, tetapi tidak bisa mendefinisikan siapa diri kita. Uang memang dapat membeli kenyamanan, peluang, dan bahkan membantu kita menjadi berkat bagi orang lain, tetapi uang tidak pernah dimaksudkan untuk mengukur nilai-nilai diri kita. Hati-hati dengan hatimu, ketika kita menganggap kekayaan sebagai tujuan akhir hidup, kita akan memiliki kecenderungan untuk mengaitkan identitas kita dengan apa yang kita miliki (atau tidak kita miliki). Kita mulai akan menghargai diri kita sebatas gaji atau penghasilan yang kita terima, atau promosi pekerjaan yang kita dapatkan. Namun, ketika kita melihat kekayaan sebagai alat atau sarana, pola pikir kita akan berubah. Kita akan menjadi lebih terarah, lebih murah hati dan lebih tenang, karena tidak ada mamon-mamon yang kita genggam.


Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita untuk waspada dalam mendisposisikan hati kita, agar tidak dikuasai oleh harta duniawi saja. Yesus mengajak kita untuk memiliki hati yang benar, hati yang berakar hanya pada Tuhan saja, bukan pada angka-angka atau banyaknya
likes di sosial media kita. Hati yang mampu bertanya, “Bagaimana aku bisa menggunakan apa yang aku miliki untuk memuliakan Tuhan dan menolong sesamaku?” Harta kekayaan itu bukanlah sesuatu yang negatif, hanya saja kita perlu bijaksana dalam mengumpulkan dan menggunakannya. Harta kekayaan, popularitas dan kesuksesan, hendaknya dilihat sebagai rahmat kemurahan hati Allah yang begitu baik. Bukan semata-mata karena kemampuan kita sendiri, sehingga tak jarang kita jatuh pada kesombongan, menjadi egois, dan tidak peduli dengan orang lain. Harta kekayaan di dunia ini seharusnya menjadi pengingat kita, kalau ada harta abadi yang harus kita perjuangkan untuk kehidupan kekal nanti. Selamat menjaga hati.

Category: