
ketekunan diperlukan untuk
berubah dan berbuah
Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon,
Paulus Chong Hasang
Lukas 8:4-15
Berubah dan berbuah adalah sebuah frasa yang tak terpisahkan dan saling berkaitan, dan ketekunan adalah yang menjembatani keduanya. Jika ingin berbuah, sebuah pohon atau tumbuhan harus mengalami proses perubahan dalam hidupnya. Mulai dari benih, tunas, akar, dahan, ranting, dedaunan, berakar semakin kuat, mulai berbunga, hingga berbuah. Proses perubahan itu semua tentu tidaklah selalu mudah dan indah. Bunga yang indah pada sebuah tumbuhan harus mengalami masa gugur agar dapat digantikan oleh kuncup-kuncup calon buah. Semua proses ini juga tidak bisa lepas dari jenis dan kondisi tanah dimana benih itu ditanam.
Dalam bacaan Injil hari Ini, Yesus mengajak untuk melihat kualitas hati kita masing-masing melalui perumpamaan benih yang ditabur di atas empat jenis tanah yang berbeda. Tanah itu adalah gambaran hati kita. Ada yang seperti tanah di pinggir jalan, tanah yang berbatu, tanah yang penuh semak duri, atau tanah yang baik. Tanah mana yang mau kita pilih untuk menyematkan benih Firman Tuhan dalam hidup kita? Jika tanah berbatu yang kita miliki saat ini, maka bertekunlah untuk mengolah tanah hatimu agar siap ditaburi benih-benih kebaikan Allah dan benih itu dapat bertumbuh dan berbuah. Jika tanah hati kita tetap berbatu dan tak mau diubah maka tidak akan ada benih yang dapat hidup diatasnya.
Santo Vinsensius mengajarkan kepada kita bahwa proses pembentukan diri seperti Kristus memerlukan ketekunan yang tiada henti, dimana seseorang terus berjuang untuk mencerminkan watak-Nya. Hanya Rahmat Allah yang mampu menolong kita, maka kita harus selalu memohon rahmat ketekunan itu untuk mengolah tanah hati kita agar dapat berubah menjadi tanah yang baik dan benih kasih Allah itu dapat hidup, tumbuh dan berbuah di hati kita. Selamat mengolah tanah hati kita masing-masing.