
Menjadi Pelita Yang Bernyala
Hari Senin Pekan Biasa XXV
Lukas 8:16-18
Para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan.
Sebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk menjadi “pelita” di dunia yang gelap. Pelita tidak boleh disembunyikan, tetapi harus ditaruh di tempat tinggi agar cahayanya menerangi sekeliling. Ini berarti: Pertama: Cara hidup kita harus mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus. Kedua: Sikap, perilaku, dan tutur kata kita harus menjadi kesaksian yang membawa orang lain kepada Terang Ilahi. Ketiga: Tindakan kita harus menjadi jawaban atas kebutuhan sesama, seperti yang Yesus lakukan. Jika kita menyembunyikan terang iman kita dengan hidup yang tidak konsisten atau sikap yang egois, kita telah mengkhianati panggilan ini. Dan agar pelita tetap bernyala, dibutuhkan minyak. Dalam kehidupan rohani, minyak itu adalah: hubungan yang intim dengan Yesus, Sang Sumber Terang, melalui doa, ibadat, sabda Allah, dan sakramen. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah membuka hati kepada Roh Kudus Allah yang memampukan kita bersinar dalam kebenaran. Oleh karena itu, baiklah kita meneladani dari Santo Vinsensius a Paulo, yang mengabdikan hidupnya bagi orang miskin karena cahaya Kristus yang menyala dalam hatinya. Tanpa minyak rohani, pelita kita akan padam. Kita tidak bisa bersinar dengan kekuatan sendiri. Santo Vinsensius a Paulo adalah contoh nyata pelita yang bernyala. Ia melihat Kristus dalam diri orang miskin dan melayani mereka dengan kerendahan hati. Ia bergerak dan tergerak oleh belas kasih, bukan sekadar teori iman. Santo Vinsensius a Paulo membawa terang harapan melalui tindakan nyata dengan melayani orang-orang miskin. Kita pun dipanggil untuk memiliki semangat yang sama: tidak hanya percaya, atau hanya NARASI indah, tetapi menjadi terang melalui pelayanan yang konkret, atau berupa AKSI nyata. Oleh karena itu, sekali lagi Yesus mengajarkan kepada kita bahwa setiap pelita yang dinyalakan harus ditempatkan di tempat yang tinggi agar cahayanya menerangi sekelilingnya. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menjadi pelita itu, bukan hanya sekadar menyala, tetapi bernyala terang melalui cara hidup kita sehari-hari. Dengan demikian, menjadi pelita berarti:
- Bersikap dengan kasih dan kelembutan, bahkan kepada mereka yang sulit dikasihi.
- Berperilaku jujur dan adil, meski dunia menawarkan jalan pintas, instan.
- Bertutur kata yang membangun (konstruktif), bukan yang meruntuhkan (destruktif).
- Bertindak dengan integritas, yang mencerminkan terang Kristus dalam setiap keputusan.
Namun, sekali lagi pelita tidak akan bernyala tanpa minyak. Minyak rohani atau spiritual kita adalah hubungan yang intim dan hidup bersatu serta bersekutu dengan Yesus Kristus Sang Terang dunia. Melalui doa, ibadat, firman, dan ekaristi, serta pelayanan, kita mengisi pelita jiwa kita agar tetap menyala dan tidak padam. Itulah yang dihidupi oleh Santo Vinsensius a Paulo tadi bahwa semangat pelayanannya lahir dari kasih Kristus yang mengalir dalam dirinya. Ia menunjukkan bahwa terang Kristus bukan untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan.
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah pelita hidupku menyala terang atau redup?
Apakah aku sudah mengisi minyak rohani atau spiritual dari Sang Terang? Apakah hidupku menjadi terang bagi orang lain? Akhirnya, ingatlah bahwa Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk menjadi pelita, tetapi pelita yang bernyala dan menyinari. Dengan semangat Santo Vinsensius a Paulo dan kekuatan dari Kristus, mari kita hidup sebagai terang yang tak tersembunyi.
Pertanyaan Refleksi:
- Di mana posisi “pelita” hidupku saat ini? Apakah aku aktif bersinar atau justru “ditutup tempayan” oleh rasa malu, kemalasan, atau dosa?
- Apakah “minyak rohaniku” cukup? Apakah aku rajin mengisi diri dengan doa, ibadat, firman Tuhan, ekaristi dan perbuatan baik?
- Bagaimana aku bisa meneladani Santo Vinsensius a Paulo? Apa langkah konkret untuk menjadi terang bagi mereka yang paling membutuhkan?