Kasih Tanpa Batas

pexels-muchowmedia-2955703

kasih tanpa batas

HARI MINGGU BIASA
Lukas 6:27-38

“Kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu.” 


Seringkali kita membayangkan firman Allah ini begitu sulit dan hanya Orang-orang Kudus saja yang mampu melakukannya, seperti Paus Yohanes Paulus II saat memaafkan penembaknya, mengunjunginya di penjara, mendoakannya dan bahkan meminta pemerintah untuk juga memberikan pengampunan. Namun sebetulnya Allah tidak meminta kita melakukan hal-hal besar dan heroik seperti itu. Allah meminta kita untuk melakukan tindakan kasih dalam kehidupan harian kita yang ‘lebih’ setiap hari. Jika hari ini kita baru bisa mengasihi diri sendiri, maka besok kita diminta untuk mengasihi keluarga kita, kemudian mengasihi orang-orang di komunitas kita, lalu mengasihi mereka yang berseberangan dan bahkan yang tidak kita kenal seperti orang Samaria yang baik hati. Jika sekarang kita menjadi pribadi yang
friendly bagi orang lain, jangan berpuas dengan itu, doronglah diri kita untuk maju selangkah menjadi pribadi yang bersahabat dan kemudian maju selangkah lagi untuk bisa hadir sebagai saudara bagi semua orang terutama mereka yang membutuhkan. Begitulah seterusnya…


St. Vinsensius mengatakan bahwa kasih itu kreatif, tanpa batas. Kasih melampaui segala peraturan. Vinsensius pun belajar dan berproses dari pribadi yang berambisi untuk memperkaya diri menjadi pribadi yang murah hati dengan memperhatikan orang miskin. Namun dengan tindakan kasihnya kepada orang yang membutuhkan, Vinsensius justru diperkaya dalam iman dan kasih. Tidak cukup sampai disitu, St. Vinsensius juga mengajak orang-orang lain mulai dari para bangsawan hingga orang-orang sederhana seperti Marguerite Naseau untuk bersama-sama melakukan karya kasih bagi orang yang membutuhkan. Maka marilah kita mulai sedikit demi sedikit meruntuhkan tembok-tembok pembatas kita dalam mengasihi.

Category: