Mendengarkan Sabda Allah dan Melaksanakannya

pexels-orlandoallo-8276074

Mendengarkan Sabda Allah
Dan Melaksanakannya

Peringatan Wajib St. Padre Pio dari Pietrelcina
 Lukas 8:19-21

Para saudaraku yang terkasih dalam Kristus Tuhan.

Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Padre Pio. Dan dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar, bahwa di tengah kerumunan yang padat, Yesus sedang mengajar. Lalu datanglah kabar bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ingin bertemu dengan-Nya. Namun jawaban-Nya mengejutkan banyak orang: “Ibuku dan saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Lukas 8:21). Bagi sebagian orang, kata-kata ini terdengar tajam, seolah Yesus menolak kehadiran ibu-Nya dan saudara-saudaraNya. Namun sesungguhnya, Ia sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam dan revolusioner: sebuah definisi baru tentang keluarga. Bukan lagi sekadar ikatan darah, melainkan ikatan spiritual yang dibentuk oleh ketaatan kepada Sabda Allah.

Maria, ibu-Nya, justru menjadi teladan utama dari definisi ini. Ia adalah perempuan yang pertama-tama mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya melalui FIAT nya dengan penuh iman berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu.” Jadi, ia tidak hanya mendengar, tetapi juga melaksanakan. Ia mengandung Sabda, membesarkan-Nya, dan tetap setia bahkan ketika harus berdiri di bawah kaki salib Putranya. Maria adalah keluarga sejati Yesus, karena ia hidup dalam ketaatan dan kasih. Dan Yesus mengundang kita semua untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya. Undangan ini melampaui batas silsilah, status sosial, latar belakang budaya, bahkan agama. Ia terbuka bagi siapa saja yang mau membuka hati, mendengarkan Sabda-Nya, dan menjadikannya nyata dalam hidup sehari-hari. Dalam terang sabda ini, kita diajak untuk melihat bahwa keluarga Allah tidak dibatasi oleh garis keturunan atau kesamaan identitas. Kita bisa berasal dari suku yang berbeda, budaya yang beragam, bahkan agama yang tidak sama. Namun jika kita sungguh mendengarkan Sabda Allah melalui kitab suci dan melaksanakannya dengan tulus, kita menjadi satu keluarga dalam Allah. Inilah spiritualitas yang melampaui tembok-tembok pemisah. Kita tidak lagi melihat sesama sebagai “orang lain”, tetapi sebagai saudara seiman, saudara se-Sabda. Kita dipersatukan bukan oleh darah, tetapi oleh kasih dan ketaatan kepada kehendak Allah. 


Santo Vinsensius a Paulo menunjukkan bahwa mendengarkan Sabda Allah berarti juga peduli pada mereka yang paling miskin dan terlupakan. Ia melayani dengan cinta yang konkret, menjadikan hidupnya sebagai Injil yang hidup. Demikian pula dengan Santo Padre Pio, yang kita peringati hari ini. Dengan hidup doa dan pengorbanannya, menjadi saksi nyata dari Sabda yang dijalani. Ia tidak hanya mengajar tentang Allah, tetapi menghadirkan Allah melalui hidupnya yang penuh kesetiaan dan penderitaan yang dipersembahkan. Maka, menjadi keluarga Yesus bukanlah hak istimewa yang diwariskan, tetapi anugerah yang diterima melalui ketaatan. Ini adalah panggilan universal, terbuka bagi siapa saja yang mau hidup dalam terang Sabda. Akhirnya, semoga kita tidak hanya menjadi pendengar Sabda saja yang pasif, tetapi menjadi pelaku atau pelaksana Sabda seperti Maria ibunda Yesus, Santo Vinsensius a Paulo, dan Santo Padre Pio, yang telah menjadi anggota keluarga Yesus yang sejati. Ingat, bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita terus berusaha mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya dengan setia. Dengan demikian kita menjadi Injil yang hidup, yang berarti pula kita adalah keluarga inti Yesus. Semoga demikian!!!


Pertanyaan Reflektif:

  1. Apakah aku sungguh membuka hati untuk mendengarkan Sabda Allah, ataukah aku hanya mendengarnya sebagai rutinitas tanpa makna?
  2. Dalam bagian hidupku yang paling nyata: keluarga, pekerjaan, relasi, apakah aku sudah melaksanakan Sabda itu dengan kasih dan kesetiaan?
  3. Jika Yesus berdiri di hadapanku hari ini, apakah Ia akan menyebutku sebagai bagian dari keluarga-Nya?

Category: