Hujan yang Tidak Pernah Sia-sia

pexels-matheus-de-moraes-gugelmim-38060312-19665591

HUJAN YANG TIDAK PERNAH SIA-SIA

Hari Selasa Pekan Prapaskah I
Matius 6:7-15

Pada awal Pekan I Prapaskah ini, Sabda Tuhan hadir seperti hujan yang turun perlahan dari langit. Nabi dalam Kitab Yesaya mengingatkan: hujan tidak kembali sebelum menyuburkan bumi. Ia meresap, bekerja dalam diam, memberi hidup pada benih yang nyaris mati. Begitu pula firman Allah—tidak pernah sia-sia. Ia menyusup ke tanah hati kita: hati yang kadang mengeras oleh ego, kadang retak oleh kecewa, kadang gersang oleh rutinitas tanpa makna.

 

Dalam terang Kitab Mazmur, Sabda itu menjadi pengalaman pribadi. “Orang yang tertindas berseru, dan Tuhan mendengar.” Allah tidak berjarak. Ia dekat pada yang patah hati, condong pada yang tersingkir. Di sinilah spiritualitas Vinseian menemukan nadanya: Allah berpihak pada yang kecil dan rapuh—bukan hanya yang miskin secara materi, tetapi juga yang miskin harapan, miskin perhatian, miskin cinta.

 

Lalu Injil Matius membawa kita masuk lebih dalam. Yesus menegaskan: jangan berdoa dengan banyak kata. Doa bukan panggung retorika. Doa adalah relasi. Kita diajar menyebut Allah: Bapa. Satu kata yang mengubah jarak menjadi kedekatan. Jika Ia Bapa, kita adalah anak—dan anak tidak perlu berteriak untuk didengar.

 

Namun relasi itu diuji dalam pengampunan. “Ampunilah kami… seperti kami mengampuni.” Prapaskah menjadi nyata ketika kita berpuasa dari dendam, menahan diri dari kepahitan, dan membiarkan Sabda menumbuhkan belas kasih.

 

Hujan sudah turun. Sabda telah ditaburkan. Kini tinggal satu pertanyaan: apakah hati kita siap menjadi tanah yang subur? Amin.

Category: